close

Thursday, October 15, 2026

author photo

 



Saya keluar dari The Zone of Interest (2023) dengan perasaan nelangsa. Bukan karena Jonathan Glazer memperlihatkan kekejaman yang belum pernah saya lihat dalam film lain, melainkan karena ia membuat saya menyaksikan sesuatu yang terasa jauh lebih sulit diterima: kehidupan yang tetap berjalan dengan begitu normal di sebelah sebuah pembantaian massal.

Rudolf Höss, komandan Auschwitz, tinggal bersama istrinya, Hedwig, dan anak-anak mereka di sebuah rumah dengan taman yang terawat. Ada bunga, pakaian yang dijemur, anak-anak yang bermain, serta urusan rumah tangga yang berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja, rumah itu berdampingan dengan Auschwitz, tempat ribuan manusia mengalami penyiksaan dan pembunuhan dalam sistem pemusnahan Nazi.

Kekejaman yang berlangsung di sekitar mereka tidak menghentikan rutinitas tersebut. Taman tetap dirawat. Anak-anak tetap bermain. Kehidupan tetap berjalan. Seolah-olah, selama urusan rumah tangga beres, dunia di luar pagar bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu jauh.

Kejahatan yang Tidak Perlu Mengganggu Rutinitas

Salah satu keputusan paling kuat dalam film ini adalah cara Glazer memperlakukan suara. Kamera tidak membawa penonton masuk ke dalam kamp untuk memperlihatkan seluruh kekejaman yang terjadi. Sebaliknya, suara tembakan, teriakan, dan aktivitas kamp hadir dari balik tembok, sementara gambar tetap mengikuti kehidupan keluarga Höss.

Dalam wawancaranya bersama Dolby Institute, Glazer menjelaskan pendekatannya untuk mempertahankan kekejaman di luar pandangan, tetapi tidak pernah benar-benar mengeluarkannya dari kesadaran penonton. Suara-suara tersebut menciptakan dua pengalaman yang berlangsung bersamaan: kehidupan nyaman yang terlihat dan penderitaan yang terus terdengar.

Pilihan ini memperlihatkan bagaimana kejahatan dapat berlangsung di samping kehidupan sehari-hari tanpa menghentikannya. Penonton tidak diberi narasi yang menentukan apa yang harus dirasakan. Kita justru dibiarkan menghadapi ketidaknyamanan saat menyaksikan sebuah keluarga menjalani rutinitas di tengah kehancuran manusia lain.

Hannah Arendt dan Kejahatan yang Terlihat Biasa

Pengalaman menonton ini mengingatkan saya pada pemikiran Hannah Arendt tentang banalitas kejahatan, yang berkembang melalui pengamatannya terhadap persidangan Adolf Eichmann, salah satu pejabat Nazi yang terlibat dalam deportasi orang-orang Yahudi.

Gagasan Arendt kerap disederhanakan menjadi anggapan bahwa kejahatan besar dapat dilakukan oleh orang biasa. Padahal, persoalannya lebih rumit. Arendt mempertanyakan bagaimana seseorang dapat menjalankan tindakan mengerikan tanpa sungguh-sungguh memikirkan makna moral dari tindakannya. Banalitas bukan berarti kejahatannya sepele, melainkan bahwa pelakunya tidak harus tampil sebagai monster sebagaimana yang biasa kita bayangkan.

Namun, gagasan ini tidak boleh digunakan untuk menggambarkan Rudolf Höss sebagai seseorang yang sekadar menjalankan pekerjaan biasa. Ia merupakan bagian aktif dari mesin pembantaian Nazi dan bertanggung jawab atas kejahatan di Auschwitz. Yang menarik untuk dipertanyakan adalah bagaimana kehidupan domestik dapat terus berlangsung di tengah sistem yang begitu kejam. Bagaimana seseorang memisahkan perannya sebagai kepala keluarga dari keterlibatannya dalam mesin pembantaian?

Zygmunt Bauman, melalui Modernity and the Holocaust, turut mengkaji peran birokrasi modern, pembagian kerja, dan rasionalitas instrumental dalam memungkinkan Holocaust berlangsung. Kekejaman tidak hanya bergantung pada kebencian individu, tetapi juga pada sistem yang membuat tindakan tertentu dapat dilaksanakan secara terorganisasi.

The Zone of Interest tidak memberikan kuliah tentang teori-teori tersebut. Film ini memperlihatkan keluarga yang menjalani keseharian, lalu membiarkan penonton melihat jarak antara kenyamanan mereka dan kekejaman yang berlangsung di sekelilingnya.

Selama Bukan Kita yang Menderita

Saya kemudian memikirkan dunia yang kita tinggali sekarang. Berita tentang perang, pengungsian, kebakaran, dan kehancuran datang silih berganti. Ada orang yang kehilangan rumah, keluarga, pekerjaan, bahkan kesempatan untuk membayangkan masa depan. Di tempat lain, kehidupan terus berjalan. Orang berangkat bekerja, membayar tagihan, dan mengurus kebutuhan sehari-hari.

Melanjutkan hidup bukanlah sesuatu yang salah. Kita tetap harus makan, bekerja, beristirahat, dan mengurus diri sendiri. Tidak seorang pun mampu menanggung seluruh penderitaan dunia tanpa batas. Namun, ada perbedaan antara melanjutkan hidup dan membiasakan diri dengan penderitaan orang lain sampai kita tidak lagi merasa perlu mempertanyakannya.

Kita membuka berita, melihat jumlah korban, membaca kesaksian orang-orang yang kehilangan segalanya, lalu menggulir layar untuk mencari sesuatu yang lebih menyenangkan. Perhatian berpindah, sedangkan penderitaan yang tadi disaksikan belum tentu berhenti. Masalahnya bukan semata-mata tindakan menggulir layar, melainkan kemungkinan bahwa penderitaan manusia berubah menjadi informasi yang kita konsumsi sebentar, lalu tinggalkan.

Dalam psikologi sosial, John Darley dan Bibb Latané mengembangkan konsep diffusion of responsibility, yaitu kecenderungan seseorang merasa tanggung jawabnya berkurang saat tanggung jawab tersebut tampak terbagi di antara banyak orang. Konsep ini membantu menjelaskan mengapa keberadaan banyak saksi tidak selalu menghasilkan tindakan kolektif. Meski demikian, ketidakbertindakan tidak bisa disamaratakan. Seseorang mungkin tidak memiliki kuasa, sumber daya, atau akses untuk membantu.

Persoalannya menjadi lebih rumit karena tidak semua orang berada pada posisi yang sama. Ada yang menyaksikan kekejaman dari tempat relatif aman, ada yang berusaha menolong dengan sumber daya terbatas, dan ada yang memiliki kekuasaan untuk memengaruhi keputusan yang menentukan hidup orang lain. Tanggung jawab mereka tidak setara.

Jika penderitaan terus dibicarakan sebagai persoalan empati individu, kita berisiko melupakan pihak yang memiliki kemampuan lebih besar untuk mengubah keadaan. Masyarakat diminta lebih peduli dan saling membantu, sementara mereka yang memegang kendali atas kebijakan, sumber daya, dan keputusan politik luput dari pertanyaan tentang alasan kondisi yang merugikan manusia terus dipertahankan.

Penderitaan tidak selalu merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan. Keputusan politik dapat menghentikan perang, kebijakan dapat diubah, dan sumber daya dapat dialihkan untuk melindungi kelompok rentan. Perubahan tidak menjamin seluruh penderitaan akan lenyap, tetapi menunjukkan bahwa sebagian penderitaan bukan sekadar nasib buruk yang harus diterima.

Tembok yang Tidak Selalu Terbuat dari Beton

Dalam film ini, tembok Auschwitz memisahkan dua dunia secara fisik. Di satu sisi, ada kehidupan domestik yang dirawat dengan teliti. Di sisi lain, ada manusia yang dirampas kebebasan dan kemanusiaannya. Tembok itu tidak menghilangkan suara kekejaman, tetapi keluarga Höss tetap memiliki ruang untuk menjalani kehidupan mereka.

Kita tidak selalu membutuhkan tembok untuk menciptakan jarak serupa. Jarak itu dapat dibangun melalui cara kita membicarakan suatu peristiwa: sebagai urusan politik, konflik yang terlalu rumit, persoalan negara lain, atau berita buruk yang membuat kita lelah. Penderitaan tidak harus disangkal agar bisa diabaikan. Kita cukup menempatkannya di luar urusan yang kita anggap penting.

Namun, tidak setiap orang yang melanjutkan rutinitasnya berarti ikut mempertahankan kekejaman. Ada perbedaan antara ketidakberdayaan yang nyata dan ketidakpedulian yang dipertahankan demi kenyamanan. Perbedaan ini penting agar kritik terhadap masyarakat tidak justru mengaburkan ketimpangan kuasa dan membebankan tanggung jawab yang sama kepada semua orang.

The Zone of Interest tidak menyediakan jawaban yang sepenuhnya bersih. Film ini justru mengingatkan bahwa kesadaran moral saja tidak cukup. Empati dapat membuat kita menyadari penderitaan, tetapi perubahan membutuhkan keputusan, kebijakan, distribusi sumber daya, serta pertanggungjawaban dari mereka yang memiliki kuasa lebih besar untuk menentukan kehidupan orang lain.

Sebab, selama bukan kita yang menderita, selalu ada alasan untuk melanjutkan hari seperti biasa. Dan barangkali, yang perlu kita lawan bukanlah keberlangsungan hidup itu sendiri, melainkan anggapan bahwa kenyamanan kita cukup menjadi alasan untuk membiarkan kehidupan orang lain hancur tanpa perlu mengusik ketenangan kita.


Tulisan ini merujuk pada wawancara Jonathan Glazer bersama Dolby Institut mengenai pendekatan suara dalam The Zone of Interest, pemikiran Hannah Arendt dalam Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil, serta kajian Zygmunt Bauman dalam Modernity and the Holocaust. Pembahasan mengenai diffusion of responsibility mengacu pada penelitian John M. Darley dan Bibb Latané, Bystander Intervention in Emergencies: Diffusion of Responsibility (1968).

 




This post have 0 komentar

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post