Friday, May 28, 2021

author photo

pojokreview.com - Pembicaraan yang paling hangat akhir-akhir ini selain Palestina adalah "hutang negara". Yah, hutang Indonesia yang totalnya mencapai $4000 triliun dianggap membahayakan dan bisa membuat negara menjadi runtuh. Banyak juga yang menyebut negara para dewa, Yunani yang akhirnya bangkrut karena hutang.


Tetapi apakah benar seperti itu? Nyatanya, tidak apa berhutang. Bahkan, Anda punya hutang terus seumur hidup juga tidak masalah. Asalkan, rasio hutang dengan penghasilan Anda bisa dikendalikan.


Contoh paling nyata adalah kebanyakan dari masyarakat Indonesia membeli rumah, mobil, dan motor dengan cara kredit. Kemudian, ada beberapa yang jadi dikejar-kejar debt collector, atau malah rumahnya disita. Namun, sebagian yang lain justru santai-santai saja dan menikmati hidupnya dengan aman.


Kuncinya ada di rasio hutang dengan penghasilan. Hutang Indonesia, sebenarnya masih masuk dalam kategori aman, karena nilai hutang masih tercatat 30% dari pendapatan negara. Namun, kenapa negara kita tidak segera melunasi hutang?


Jawabannya justru pertanyaan lagi, apa manfaatnya tidak punya hutang? Bila menyebut nama negara-negara maju di dunia, maka Anda bisa melihat besarnya hutang mereka. Sebut saja, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara besar lainnya, semuanya juga punya hutang bahkan jauh lebih besar dari Indonesia. 


Bila diandaikan dengan satu keluarga, maka berhutang akan menjadikan satu keluarga memiliki modal untuk memulai usaha. Membayar hutangnya membuat satu keluarga akan berusaha keras agar tetap mendapatkan keuntungan.


Melihat keadaan hutang negara, sebenarnya sah-sah saja Anda berhutang, bahkan kembali berhutang ketika hutang yang lama sudah lunas. Tapi, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum Anda berhutang. Berikut ulasannya.


Pastikan besaran hutang tidak lebih dari 30% penghasilan Anda


Misalnya saja Anda punya penghasilan bersih per bulan sebesar Rp10 juta, maka hutang Anda paling besar atau maksimal adalah Rp3 juta per bulan. Begitu juga bila penghasilan Anda hanya Rp1 juta, berarti hutang Anda maksimal harus Rp300 ribu cicilannya per bulan.


Misalnya untuk kredit rumah bayaran per bulannya adalah Rp1.000.000, dan penghasilan Anda adalah Rp15 juta, maka Anda bisa mempertimbangkan untuk mengambil hutang lagi. Tapi, bila penghasilan Anda adalah Rp3 juta, berarti Anda mesti menyelesaikan terlebih dulu hutang rumah tersebut.


Pastikan hutang untuk hal yang produktif


Berhutang untuk membeli rumah, tanah, investasi, modal usaha, dan sebagainya jauh lebih disarankan ketimbang Anda berhutang membeli tas atau sepatu misalnya. Seorang tukang ojek membeli motor dengan cara kredit, dan membayarnya dari hasil mencari uang dengan motor itu sendiri. Itu yang dinamakan berhutang untuk hal yang produktif.


Membeli rumah adalah investasi masa depan. Hal itu juga bisa Anda pertimbangkan dengan berhutang. Langkah tersebut bahkan jauh lebih efektif ketimbang Anda baru membeli rumah dengan cara menabung per bulan. Karena ketika Anda menabung, Anda harus tetap membayar rumah kontrakan yang harganya nyaris tidak begitu jauh selisihnya dengan harga rumah subsidi misalnya.


Itulah kenapa berhutang makan di warteg, atau berhutang odol dan sikat gigi di warung, justru lebih "berbahaya" daripada berhutang membeli rumah atau motor. Kenapa? Karena barang tersebut akan habis, sedangkan Anda harus menyisihkan penghasilan Anda untuk membayar hutangnya. Kadang-kadang, jumlah hutang Anda akan melebihi rasio yang aman.


Hindari gali lobang tutup lobang


Hindari berhutang untuk membayar hutang. Itu adalah tindakan yang justru merugikan Anda. Karena itu, lebih baik Anda tidak berhutang dari awal bila dirasa rasio dengan penghasilan Anda tidak aman.


Anggap saja Anda berhutang Rp10 juta, dalam tempo waktu 3 bulan. Jadinya, total yang harus Anda bayar adalah sekitar Rp11.500.000. Lalu, untuk membayar itu, Anda berhutang sebesar Rp11,5 juta dan dikembalikan Rp13 juta. Demikian terus menerus sampai akhirnya bunga hutang akan sangat mencekik leher.


Perhitungkan biaya hidup setelah penghasilan dipotong hutang


Anda punya gaji Rp10 juta, dan mungkin ingin berbelanja, liburan, dan sebagainya dengan gaji tersebut. Namun, Anda harus langsung menghitung bahwa gaji Anda tidak Rp10 juta, karena ada cicilan yang harus dibayar dengan total Rp3 juta per bulan. Jadi, hitung saja bahwa gaji Anda hanya Rp7 juta perbulan.


Itu tadi ulasan tentang hutang yang tetap aman bagi Anda, jadi tidak mencekik leher dan membahayakan hidup Anda. Meski demikian, tidak seperti di film-film, berhutang itu juga susah loh. Anda harus memiliki jaminan yang meyakinkan, usaha yang menjanjikan, dan faktor pendukung lainnya agar hutang Anda bisa disetujui oleh bank. 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post