| Shutter Island (2010) - Ulasan ini mengandung spoiler. |
Shutter Island adalah film
thriller psikologis yang dirilis pada tahun 2010 dan disutradarai oleh Martin
Scorsese. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Dennis
Lehane yang terbit pada tahun 2003. Dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, film ini
juga menampilkan Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Max von Sydow, serta Michelle
Williams.
Sebagai karya, Shutter
Island sering dikenang karena atmosfernya yang gelap, struktur narasi
yang penuh teka-teki, serta plot twist yang menjadi salah satu yang paling
banyak dibicarakan dalam film thriller modern. Namun daya tarik Shutter Island
tidak berhenti pada kejutan ceritanya. Di balik lapisan misterinya, film ini
juga menyentuh tema yang jauh lebih dalam: trauma, identitas, dan cara manusia
berhadapan dengan kenyataan yang terlalu menyakitkan untuk diterima.
Mungkin itulah alasan mengapa
film ini tetap terasa relevan untuk dibahas hingga sekarang, meskipun telah
dirilis lebih dari satu dekade lalu. Shutter Island tidak hanya bercerita
tentang misteri atau kegilaan, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih dekat
dengan pengalaman manusia sehari-hari: kecenderungan untuk menciptakan cerita
yang membuat hidup terasa lebih dapat ditanggung.
Jadi, setelah menonton ulang, penulis punya kecurigaan sederhana: manusia sering kali tidak
benar-benar ingin mengetahui kebenaran. Kita bilang ingin tahu kebenaran, tapi
hanya selama kebenaran itu masih bisa ditanggung. Begitu kebenaran mulai terlalu
menyakitkan, manusia biasanya melakukan sesuatu yang sangat manusiawi:
menciptakan cerita baru agar hidup tetap terasa masuk akal.
Fenomena ini dalam filsafat
eksistensial pernah dibahas oleh Albert Camus melalui konsep bunuh diri
filosofis. Dalam bukunya The Myth of Sisyphus, Camus menjelaskan bahwa ketika
manusia berhadapan dengan absurditas hidup—ketika dunia tidak memberikan makna
yang jelas, banyak orang memilih melompat ke sistem keyakinan atau narasi yang
memberi kepastian.
Namun sebelum sampai pada konsep
itu, Camus sebenarnya mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup ekstrem: apa yang
seharusnya dilakukan manusia ketika menyadari bahwa hidup mungkin tidak
memiliki makna yang pasti?
Menurutnya, ada tiga kemungkinan
respons terhadap absurditas tersebut. Pertama adalah bunuh diri secara fisik,
yaitu keputusan untuk mengakhiri hidup karena merasa hidup tidak lagi memiliki
makna. Kedua adalah bunuh diri filosofis, yaitu ketika seseorang tetap hidup
tetapi melompat pada sistem keyakinan tertentu seperti agama, ideologi, atau
narasi besar, untuk menutup ketidakpastian hidup. Sementara kemungkinan ketiga
adalah menerima absurditas itu sendiri dan tetap hidup dengan kesadaran penuh
terhadapnya. Dengan kata lain, manusia bisa
memilih untuk berhenti hidup, berhenti berpikir, atau tetap hidup sambil
menerima bahwa dunia memang tidak selalu masuk akal.
Secara sederhana, manusia sering
tidak benar-benar menyelesaikan absurditas. Kita hanya menutupinya dengan
cerita yang lebih nyaman. Kalau terdengar familiar, mungkin
karena praktik ini sangat umum dilakukan manusia modern. Bedanya, kita biasanya
tidak menyebutnya bunuh diri filosofis. Kita menyebutnya: cara berpikir yang
sehat.
Film Shutter Island menyajikan
gambaran yang sangat menarik tentang fenomena ini. Di permukaan, film ini
tampak seperti thriller psikologis tentang seorang marshal yang datang ke rumah
sakit jiwa untuk menyelidiki hilangnya seorang pasien. Tokoh utamanya, Teddy Daniels,
digambarkan sebagai penyelidik yang keras kepala. Ia mencurigai adanya
eksperimen rahasia yang dilakukan oleh pihak rumah sakit.
Namun semakin lama penyelidikan
berlangsung, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan pada akhirnya, plot twist itu
muncul: Teddy Daniels sebenarnya adalah Andrew Laeddis, seorang pasien di rumah
sakit tersebut. Realitas yang sebenarnya jauh
lebih tragis. Istri Andrew mengalami gangguan mental dan suatu hari
menenggelamkan ketiga anak mereka di danau belakang rumah. Ketika Andrew
menemukan mereka, ia menembak istrinya.
Kenyataan ini terlalu berat untuk
diterima. Maka Andrew melakukan sesuatu
yang sangat manusiawi: ia menciptakan identitas baru. Ia bukan lagi Andrew
Laeddis, seorang ayah yang kehilangan anak-anaknya. Ia adalah Teddy Daniels,
seorang marshal yang sedang menyelidiki konspirasi besar.
Dengan kata lain, ia membangun
sebuah beautiful lie. Konsep beautiful lie ini
sendiri bukan sekadar istilah puitis. Dalam filsafat eksistensial, ia merujuk
pada kecenderungan manusia untuk menciptakan narasi yang lebih nyaman agar
tidak perlu berhadapan langsung dengan realitas yang menyakitkan. Kebohongan
ini disebut “indah” bukan karena benar, tetapi karena ia memberikan ketenangan
psikologis.
Dalam kerangka pemikiran Albert
Camus, beautiful lie dapat dilihat sebagai salah satu bentuk bunuh
diri filosofis: ketika seseorang memilih mempercayai cerita yang memberi makna
daripada menerima kenyataan bahwa dunia sering kali tidak memiliki makna yang
jelas.
Penulis harus mengakui,
kebohongan Andrew ini sebenarnya cukup ambisius. Kebanyakan manusia hanya
membuat kebohongan kecil untuk bertahan hidup. Misalnya meyakinkan diri bahwa
pekerjaan yang melelahkan adalah “passion”, atau bahwa sistem yang
menekan adalah sesuatu yang “harus dijalani”.
Andrew, di sisi lain, membangun
seluruh dunia baru.
Namun fenomena seperti ini
sebenarnya bukan sekadar fiksi film. Dalam psikologi trauma, kondisi seperti
ini berkaitan dengan mekanisme dissociation, yaitu ketika pikiran memisahkan
diri dari pengalaman yang terlalu menyakitkan untuk diproses secara sadar. Peneliti trauma seperti Bessel
van der Kolk menjelaskan bahwa pengalaman traumatis sering tidak tersimpan
sebagai cerita yang utuh dalam memori. Trauma lebih sering muncul dalam bentuk
fragmen: emosi, sensasi tubuh, atau potongan ingatan yang tidak terintegrasi.
Dari sudut pandang
neuropsikologi, hal ini juga berkaitan dengan cara otak memproses pengalaman
traumatis. Bagian otak bernama amigdala, yang berperan dalam memproses emosi
terutama rasa takut, sering menjadi sangat aktif ketika seseorang mengalami
trauma. Sebaliknya, hipokampus, bagian otak yang membantu menyusun memori
menjadi cerita yang runtut sering kali justru terganggu fungsinya. Akibatnya,
pengalaman traumatis tidak tersimpan sebagai narasi yang utuh, melainkan
sebagai potongan-potongan ingatan yang kacau dan sulit dipahami. Dalam situasi seperti ini,
pikiran manusia kadang melakukan sesuatu yang cukup kreatif: ia menyusun cerita
baru agar pengalaman tersebut tetap bisa ditanggung secara psikologis. Andrew Laeddis melakukan hal ini
dalam bentuk yang ekstrem. Ia tidak hanya memodifikasi ingatan. Ia menciptakan
identitas baru.
Namun bagian paling menarik dari
Shutter Island justru muncul di akhir cerita. Setelah terapi peran yang
dirancang oleh dokter rumah sakit, Andrew akhirnya tampak menyadari siapa
dirinya sebenarnya. Ia tidak lagi menyangkal kenyataan. Untuk sesaat, ia menerima
kebenaran itu. Lalu ia mengatakan kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal:
“Which would be worse: to live as a monster, or to die as a good man?”
Jika dilihat dari perspektif
Albert Camus, pilihan Andrew bisa dianggap sebagai bentuk bunuh diri
eksistensial. Andrew tidak membunuh dirinya secara fisik, tetapi ia memilih
untuk menghapus kesadarannya sendiri agar tidak perlu lagi berhadapan dengan
kenyataan.
Di titik ini, kisah Andrew
Laeddis menjadi semacam cermin bagi manusia modern. Karena jika dipikir-pikir,
manusia memang sering melakukan hal yang mirip, meskipun dalam versi yang lebih
ringan. Kita menciptakan berbagai narasi untuk membuat hidup terasa masuk akal:
ideologi, identitas, keyakinan, atau sistem nilai tertentu.
Kadang narasi itu membantu kita bertahan. Kadang juga hanya membuat kita merasa sedikit lebih tenang di tengah dunia yang absurd. Dan mungkin di situlah letak ironi terbesar dari kisah ini. Andrew Laeddis dianggap gila karena ia hidup dalam kebohongan yang indah, Andrew menciptakan satu kebohongan besar. Sementara manusia lain biasanya membuat kebohongan-kebohongan kecil setiap hari, lalu menyebutnya sebagai realitas. Bagaimana dengan anda, mekanisme bertahan seperti apa yang pernah anda lakukan?


This post have 0 komentar