Termometer Infrared Dianggap Tidak Efektif Kurangi Sebaran Corona, Ini Alasannya

Termometer Infrared Dianggap Tidak Efektif Kurangi Sebaran Corona, Ini Alasannya (foto: Kompas.com)
PojokReview - Saat ini, untuk mengurangi penyebaran wabah Covid-19 atau Corona, pemerintah di setiap provinsi dan kabupaten menyiagakan dinas terkait mereka untuk mendeteksi siapa saja yang kemungkinan bisa terinfeksi penyakit ini.

Salah satu yang digunakan adalah termometer inframerah (thermometer infrared) yang dianggap tidak efektif untuk mengurangi penyebaran Corona. Penyebab utamanya adalah penggunaannya yang keliru.

Seorang fisikawan di Dtech-Enginering lewat akun sosial media khusus tanya jawab, Quora membahas detail tentang penggunaan termometer infrared yang keliru tersebut.

Kekeliruan Penggunaan Termometer Infrared


Suhu di Bawah 36 Derajat Celcius Dianggap Aman


Suhu yang dianggap normal adalah 36 derajat Celcius. Jadi, bila suhu berada di atas itu, maka kebijakan yang lakukan adalah orang tersebut tidak boleh masuk (kantor, pusat perbelanjaan dan sebagainya).

Namun, suhu di bawah itu akan boleh di bawah masuk, berapapun nilai suhunya. Masalahnya adalah beberapa angka yang "tidak masuk akal" alias terlalu rendah justru bisa masuk.

Tahukah Anda, bila benar ada orang yang suhunya di bawah 32 derajat Celcius, maka orang tersebut sudah dipastikan terkena hipotermia. Masalahnya dalam beberapa kasus, seperti yang diposting beberapa orang di Twitter  justru jauh sekali di bawah angka normal tersebut.


Malahan, sejumlah orang justru mempertanyakan keabsahan nilai yang ditampakan oleh termometer tersebut. Misalnya, 26 derajat Celcius dianggap normal dan boleh masuk. Itu serius orang, atau zombie?

2. Proses Pengukuran Tidak Tepat

Termometer infrared jenis gun (dengan laser) ternyata kebanyakan digunakan dalam cara yang salah. Laser tersebut adalah pengarah, sedangkan sensor untuk mengukur suhu tersebut justru ada di bagian bawahnya.

Sehingga ketika laser tersebut ditembakkan ke kening, justru yang diukur suhunya adalah yang berada di bagian bawahnya, misalnya mata atau hidung.

Lihat keterangan gambar di bawah ini.


Berikut ini, fisikawan bernama Fajrul Falah tersebut menguji coba menembahkan laser tersebut ke sebuah batang solder yang menyala. Tentunya, batang solder sudah sangat panas, bahkan bisa melelehkan besi dan baja. Tapi, lihat gambar di bawah ini, berapa derajat suhunya tertangkap?

Pengukuran dengan laser tepat ke batang solder yang menyala (sumber foto Quora)

Yah, hanya 45 derajat Celcius. Itu bahkan tidak bisa untuk mendidihkan air, apalagi melelehkan besi.

Sekarang, dicobanya sekali lagi dengan menembakkan tepat di atas batang solder tersebut (tidak tepat ke batang solder). Lihat gambar di bawah ini.

Pengukuran dengan laser mengarah ke atas batang solder (sumber foto: Quora)

Hasilnya, justru lebih dekat dengan suhu yang dibutuhkan. Yakni, 246,6 derajat Celcius. Itu membuktikan, ketika termometer tersebut diarahkan ke kening, justru yang sedang disorot dan diukur suhunya oleh termometer tersebut adalah hidung atau mata. Jadi, wajar saja kalau seorang yang suhu tubuhnya mungkin sedang sangat panas sekali, tapi malah terdeteksi normal.

Atau, yang normal, justru terdeteksi seperti hipotermia. Seperti kasus yang terdeteksi 26 derajat celcius tadi misalnya.

3. Alat yang Digunakan Tidak Optimal


Alat yang digunakan sebagian besar oleh banyak orang adalah termometer infrared yang khas dengan warna kuning-abu di bawah ini.

Harganya rata-rata di bawah Rp 200.000-ribuan. Bahkan, bila membeli dalam jumlah besar, harganya hanya Rp 150 ribuan saja.

Faktanya, termometer infrared jenis itu tidak tepat digunakan untuk mengukur suhu tubuh manusia. Produk ini memang ditujukan untuk kebutuhan industri, seperti mengukur suhu mesin, AC dan sebagainya.

Maka, tingkat akurasi termometer ini bila digunakan untuk mengukur suhu manusia (ditembakkan ke kulit) tentunya sangat tidak akurat. Sebab, barang-barang yang biasa diukur dengan termometer ini adalah benda yang mampu memancarkan radiasi yang lebih tinggi alias emisivitasnya tinggi.

Tapi, kulit manusia memancarkan radiasi sangat rendah. Karena itu, termometer ini sangat tidak tepat digunakan untuk mengukur suhu tubuh manusia.

Jenis termometer infrared yang tepat digunakan adalah yang sudah disetting sedemikian rupa untuk menangkap suhu tubuh manusia dengan ditembakkan pada kulit. Dengan demikian, harganya juga sudah jauh lebih tinggi.

Rekomendasi Termometer Infrared


Ada beberapa termometer infrared yang telah disetting nilai emisivitasnya sehingga tepat untuk pengukuran suhu tubuh manusia.. Berikut beberapa di antaranya.

DINGDING New Thermometer Digital Infrared IR LCD Baby Forehead and Ear Non-Contact Adult Body Care Fever Measurement Termometro White


Produk satu ini, sangat mudah digunakan dan akurat. Diset dengan alarm demam, yang bisa di-unmute dan digantikan dengan cahaya berwarna orange (untuk cukup berbahaya) dan warna merah (untuk sangat berbahaya/sangat panas). Produk ini dijual seharga Rp 1.190.000.


NetumScan Infrared Thermometer Forehead Baby Non-Contact Adult with Lcd-Backlight


Produk satu ini didesain otomatis akan shut down sendiri bila selama 15 detik tidak digunakan, bila dalam keadaan low power. Display LCD-nya juga akan memberikan informasi apabila seseorang masuk kategori demam, atau tidak dengan lampu indikasi. Produk ini dijual seharga Rp 1.099.000


Non-contact infrared thermometer termometer digital mengukur suhu tubuh orang dewasa dan anak-anak


Produk inilah yang menjadi andalan Pemerintah China melawan wabah virus Corona beberapa waktu terakhir. Sayangnya, semua keterangan termasuk cara penggunaan, menggunakan bahasa Mandarin. Akan sangat baik bila Anda meminta seorang yang bisa berbahasa Mandarin untuk membantu memberi tahu cara menggunakannya. Produk ini dijual seharga Rp 1.634.000.

No comments:

Powered by Blogger.