Review Novel "The School for Good and Evil" karya Soman Chainani


Info Buku

Judul  : The School for Good and Evil (Sekolah Kebaikan dan Sekolah Kejahatan)
Penulis  : Soman Chainani
Pengalih bahasa : Kartika Sofyan
Penerbit : - HarpeeCollins Publisher
                   - Bhuana Sastra
Cetakan ke-8, Agustus 2018
Jumlah Halaman : 580 halaman

Di hutan purbakala 
Berdirilah sekolah kebaikan dan kejahatan
Dua menara bagai kepala kembar
Satu untuk yang tulus
Satu untuk yang keji
Sia-sia mencoba kabur
Satu-satunya jalan keluar adalah
melalui dongeng


Fantasi berlatarkan misteri dari sebuah dongeng, novel ini menceritakan Sophie dan Agatha yang digadang-gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Sekolah Kejahatan. Sekolah legendaris untuk mendidik anak laki-laki dan perempuan menjadi pahlawan dan penjahat. 

   Terlihat sebagaimana dongeng pada umumnya, dikisahkan putri dan pangeran akan berhadapan dengan para penyihir. Namun, uniknya adalah Sophie dengan gaun pink, sepatu kaca dan ketaatannya kepada kebajikan yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan malah dibuang oleh Sang Guru ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian. Sedangkan, oleh Sang Guru, Agatha dengan rok terusan berwarna hitam, memiliki kucing peliharaan yang nakal dan kebenciannya terhadap semua orang di bawa ke Sekolah Kebaikan bersama dengan pangeran tampan dan putri cantik untuk mempelajari Etiket Putri. Hal ini membuat kita terus menerus  membaca karena penasaran, apa yang sebenarnya ada di balik kesalahan Sang Guru sehingga sekolah Sophie dan Agatha tertukar. 

   Diterjemahkan hingga ke berbagai bahasa, novel ini memang cocok untuk peminat cerita fantasi terutama para remaja. Pasalnya penggambaran dari sekolah dan latar cerita pun dikemas dengan sangat baik di dalam narasi-narasinya. Dialog yang diutarakan terasa hidup, belum lagi setiap apa yang disampaikan menjadi sebuah petunjuk menuju akhir dongeng Sophie dan Agatha. 

           Penulisnya mampu membuat kisah yang saling bertautan dengan berbagai kejadian dalam sebuah dongeng misteri yang mengalir dan menenggelamkan pembaca dalam imajinasinya. Suasana yang dihadirkan di setiap kejadian dalam buku tersebut dengan pilihan kata yang pas dan menyentuh hati menjadikan novel ini semakin menarik. Seperti pada pertunjukam bakat Sekolah Kebaikan melawan Sekolah Kejahatan yang lebih tampak bagai pertarungan itu sungguh meninggalkan jejak di imaji pembaca. Semuanya disajikan secara detail, indah, sekaligus menegangkan. Elegan di saat yang bersamaan. Bahkan nuansa dari kedua sekolah itu dapat di rasakan, cerah ataupun gelap. Kalian juga dapat membayangkan bangunan sekolah atau akademi yang megah dengan desain interior klasik beserta barang-barang antik khas negeri dongeng.

 5 Peraturan yang Membedakan Baik dari Jahat :
1. Jahat menyerang. Baik mempertahankan diri.
2. Jahat menghukum. Baik memaafkan. 
3. Jahat menyakiti. Baik menolong. 
4. Jahat merampas. Baik memberi.
5. Jahat membenci. Baik mencintai.
- Yuba, Guru Pertahanan dalam Dongeng

        Soman Chainani, sang penulis berhasil menjadikan novel ini sebagai buku New York Times Best Seller. Bagaimana tidak? Petualangan Sophie dan Agatha dikisahkan sungguh luar biasa dibumbui pula dengan romansa bersama pangeran Tedros, seorang putra dari raja Arthur. Di awal memang semuanya tampak seperti kekeliruan, akan tetapi melihat bagaimana pangeran Tedros yang terus menerus terhubung dengan Agatha sehingga Sophie menghalalkan segala cara untuk membuktikan bahwa Tedros ditakdirkan untuknya semakin mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sebenarnya. Sepanjang cerita kita akan berpikir mungkinkah Sophie adalah penjahat berbulu domba? Sementara Agatha tak lain si baik hati yang buruk rupa? 

      Tak sampai di situ, kekerenan novel ini bertambah. Sebab, dibalut kisah yang unik juga liar, The School for Good and Evil sangatlah informatif. Kita mendapat pengetahuan mengenai istilah-istilah dalam dunia dongeng serta makhluk-makhluk mitologi kuno yang disertai beberapa ilustrasi gambar di awal babnya. 

               

Cupid (Makhluk   
  mitologi  yunani kuno, 
dikenal juga sebagai Eros, 
 putra dari Dewi Aprodhite,
 juga terkenal dengan kisah 
cintanya  bersama Psyche)
  

Sayangnya, tragedi yang memacu adrenalin untuk mencapai akhir dongeng di mana kemenangan Sekolah Kebaikan atau Sekolah Kejahatan dipertanyakan, harus bersambung sebagai penutup seri I dan petualangan mereka akan berlanjut di seri berikutnya. Namun, bukankah kebaikan akan selalu menang? 

Nah, jika kalian ingin memecahkan teka-teki dalam kisah fantasi yang tidak biasa, maka The School for Good and Evil boleh dijadikan bahan bacaan, dan jangan lupa untuk terus ikuti seri bukunya agar menemukan jalan keluar dari dongengnya. 

Tertarik membaca buku ini, beli buku ini di sini:


No comments:

Powered by Blogger.