close

Friday, February 26, 2021

author photo
Beberapa pemuda yang berperang melawan Belanda di Agresi Militer tertangkap. Banyak yang mengatakan, hal itu disebabkan oleh banyaknya pembelot di kubu Indonesia.

pojokreview.com - Ketika NKRI merdeka dari cengkraman Belanda, proklamasi digaungkan dan bendera merah putih dikibarkan, seluruh rakyat Indonesia bersuka cita. Tetapi, ternyata ada juga pihak-pihak yang tidak berbahagia dengan kemerdekaan itu. Adalah duo Suria, yang satu Suria Kartalegawa, Bupati Garut di tahun 1929. Dan satu lagi Suria Santoso, seorang tentara berpangkat Mayor dari KNIL.


Duo Suria ini dikenal dan dicatat dalam sejarah bangsa sebagai dua orang (dari banyak) yang menentang kemerdekaan Indonesia dan memilih tetap berada di bawah Kerajaan Belanda. Alasan utamanya adalah takut kehilangan privilege (hak istimewa atau keuntungan tertentu). Kata satu ini sudah diserap ke Bahasa Indonesia menjadi privilese.


Kenapa mereka menolak? Dan kenapa mereka merasa dirugikan dengan kemerdekaan RI?


Musa Soeria Kartalegawa


Suria yang pertama adalah Soeria Kartalegawa yang nama lengkapnya ditambah "Musa" di depannya. Nama "Musa" ini juga yang akhirnya menjadi nama panggilan masa kecilnya, "Uca". Sejak lahir, Soeria yang satu ini sudah terlanjur kaya. Dia anak bupati Garut ke-5 yang bernama sama RAA Soeria Kartalegawa (tanpa "Musa"). 


Ia "naik tahta" di tahun 1929 menggantikan ayahnya. Sebelumnya ia menimba pendidikan dari sekolah-sekolah keren yang ditujukan untuk bangsawan dan anak-anak bangsa Eropa, mulai dari ELS, HBS sampai Bestuur School. Lebih kerennya lagi, tamat sekolah ia langsung bekerja mulai dari jadi amtenar kabupaten Cianjur, jadi ajudan jaksa, jadi asisten residen, sampai jadi wedana dan akhirnya jadi bupati.


Ketika jadi bupati, Soeria mengenalkan konsep pariwisata sebagai daya tarik Garut dengan tajuk utama Vereeniging Mooi Garoet. Namun sayang, reputasinya cukup buruk di masyarakat, terutama masyarakat Garut. Ia dikenal sebagai bupati yang korup dan menyalahgunakan kekuasaan. Setidaknya, itu catatan yang didapatkan tentang Soeria yang satu ini.


Sampai akhirnya, proklamator kemerdekaan RI, Soekarno - Hatta memproklamirkan negara RI, Musa Soeria Kertalegawa mulai panik. Apalagi presiden pertama RI mengangkat Sutardjo Kertohadikusumo sebagai Gubernur Jawa Barat. Maka ketidaksenangannya semakin menjadi-jadi. Lebih tepatnya, ia takut nantinya Garut akan dibuat menjadi kabupaten lainnya, berdiri sebagai kabupaten demokratis. Maka, ia bisa saja kehilangan jabatannya sebagai bupati.


Tidak ingin diam saja, Musa Soeria Kartalegawa mencoba melawan dengan mendirikan partai, yang disebut Partai Rakyat Pasundan (PRP) sekitar bulan November 1946. Tahun berikutnya, Musa Soeria Kartalegawa mencoba hal yang lebih ekstrim yakni memproklamirkan negara bernama Negara Pasundan. Dengan dukungan dari beberapa tokoh militer Belanda, ia akhirnya melakukan deklarasi negaranya tersebut di Bandung.


Sayangnya, semua orang menentangnya. Iya, bahkan gubernur jenderal terakhir Hindia Belanda, Van Mook (secara de facto) juga menolak ide tersebut. Tokoh Sunda yang berpengaruh seperti Wiranatakoesoema juga menolak. Dikatakan semua orang yang menolak, karena bahkan ibu dan anak Soeria Kartalegawa juga menolak habis-habisan ide tersebut.


Namun, akhirnya Negara Pasundan itu terwujud karena RI pada awalnya berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Negara Pasundan menjadi salah satu negara bagiannya. Malang bagi Soeria, tokoh masyarakat yang dulu menentangnya yakni Wiranatakoesoema V yang diangkat menjadi Presiden Negara Pasundan. Namun, oleh Wiranatakoesoema V, Soeria dijadikan menteri.


Namun setelah itu, Soeria menghilang bagai ditelan bumi. Penyebabnya adalah keberpihakannya pada Belanda (yang datang bersama NICA) ketika Agresi Militer ke-2. Alhasil, oleh masyarakat Garut, ia diberi nama baru Soeria-Nica-Legawa.


Sardjono Soeria Santoso




Nama kedua adalah Soeria Santoso atau bernama panjang Raden Mas Sardjono Soeria Santoso. Keluarga bangsawan asal Jawa Timur dan sekolah ala Eropa, sebenarnya Soeria Santoso berhasil mencetak prestasi yang mengagumkan. Yah, beliau adalah orang Jawa pertama yang diterima Akademi Militer Belanda.


Tahun 1921, beliau lulus dan menjadi Letda KNIL dan berada di korps artileri. Lebih hebatnya lagi, beliau adalah satu-satunya perwira pribumi di artileri KNIL. Tahun 1935, Soeria Santoso menjadi Danyon Artileri di Jakarta berpangkat Kapten.


Tahun 1941, Soeria Santoso naik pangkat jadi Mayor. Itupun karena ia adalah pribumi, karena pribumi biasanya lebih sulit naik pangkat. Baru saja sebentar jadi mayor, Jepang berhasil mengalahkan Belanda sehingga Soeria Santoso akhirnya pensiun dini, dan menjadi warga sipil.


Soeria Santoso sebenarnya sempat tergabung dengan Sutan Sjahrir, namun karena mantan mayor, pengawasan militer Jepang terhadapnya cukup ketat. Kekalahan Jepang di tahun 1945 membuat ia sedikit tersenyum. Namun sayangnya, sebagai mantan prajurit Hindia Belanda, Mayor Soeria Santoso nyatanya masih terikat dengan sumpahnya untuk setia pada Ratu Belanda.


Meski pribumi, ia tak pernah menyatakan diri sebagai nasionalis. Para pendiri republik ini sempat mengusulkan nama Soeria Santoso sebagai menteri pertahanan RI, namun Soeria tak menunjukkan keinginannya.


Namun sayang sekali, meski berteman dengan para pendiri negeri ini, khususnya Sutan Sjahrir, Soeria Santoso justru bergabung lagi dengan KNIL ketika agresi militer. Ia bahkan ikut menyusun strategi untuk mengalahkan tentara gerilya Indonesia. Ia bahkan diletakkan di bagian intelijen KNIL dan memiliki hubungan baik dengan NICA.


Yah, pada saat agresi militer Belanda baik yang pertama maupun yang kedua, Soeria ikut andil di dalamnya sebagai penyusun strategi perang. Sebagai pribumi tentunya ia yang diharapkan untuk lebih mengenali medan di tanah air. Tahun 1946, pangkatnya dinaikkan menjadi Letkol KNIL.


Lebih menariknya lagi, beliau jadi salah satu yang mengiringi Letnan Gubernur Jenderal Hubertos van Mook dalam perundingan Indonesia Belanda di Hooge Veluwe. Yah, ia datang bersama Sultan Hamid II, serta Letnan Julius Tahija sebagai "kontingen" Belanda ketika bertemu dengan perwakilan Indonesia untuk berunding. 


Banyak yang mengira, pembelotan Soeria Santoso dikarenakan; pertama karena sumpahnya sebagai tentara Belanda yang setia pada Ratu Belanda. Kedua, karena previlesenya sebagai perwira yang bahkan dinaikkan lagi pangkatnya menjadi Letkol hingga pensiun sebagai kolonel KNIL.


Padahal, kalau ia bergabung dengan TNI pasca proklamasi, maka ia dipastikan akan menjadi jenderal. Ia sempat menjadi Sekretaris Negara urusan keamanan dalam negeri ketika Indonesia menjadi RIS. Tahun 1950, ia ditangkap oleh tentara republik.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post