Sunday, March 28, 2021

author photo


pojokreview.com - Beberapa waktu yang lalu, Grandmaster Wanita Catur Indonesia Irene Kharisma Sukandar menjadi viral di dunia maya pasca surat terbukanya yang berujung pertandingan catur melawan Dadang Subur alias Dewa Kipas. Sang grandmaster wanita membungkam Dadang Subur dengan skor 3-0 dari pertandingan yang disaksikan 12 juta pasang mata itu.


Sebelumnya, ketika Irene membuat surat terbuka, ada banyak tanggapan baik pro maupun kontra. Intinya, Irene mengatakan bahwa keberhasilan seseorang itu didapat dari belajar, berlatih, ketekunan, dan konsistensi. Tidak bisa dengan "hanya hobi". 


Namun, pak Dadang Subur yang begitu viral sampai jadi pembicaraan para pecatur dunia. Yah, kata para pecatur dunia, di Indonesia itu tidak perlu sekolah catur untuk jadi pecatur yang populer, atau malah pecatur yang "hebat".


Bahkan ada yang bilang bahwa insinyur luar negeri saja tidak semuanya bisa membuat helikopter. Namun, ada anak STM yang bisa melakukannya. Di Indonesia, pernah tersiar kabar seorang putus sekolah yang membuat tangan robot, juga ada anak STM yang membuat mobil. Dan apa yang dibuat oleh para "master"?


Anggapan itu tidak hanya terjadi di catur, tapi di semua lini. Istilahnya, tidak perlu sekolah, kursus, atau belajar. Cukup dengan hobi, serta keberuntungan, tanpa harus mempelajari ilmu pengetahuan terkait hal tertentu, seseorang sudah bisa populer di bidangnya.


Turun gunungnya sang grandmaster, dan "menurunkan statusnya" dengan berhadapan dengan pecatur "pos ronda" tentunya satu hal yang tidak banyak dilakukan para master lainnya. Namun, hasilnya adalah Irene membuka mata bahwa ilmu pengetahuan merupakan landasan dari semua bidang. Bermain catur yang berlandaskan ilmu pengetahuan, akan lebih berhasil daripada bermain catur yang berlandaskan "hobi" belaka.


Kalau saja Irene kemarin kalah, mungkin entah karena faktor tertentu, maka bisa jadi semua kelas catur di seluruh Indonesia akan kehilangan siswa. Tapi, berkat Irene, orang tua yang melihat anaknya berbakat catur akan berkata, "kalau mau menjadi grandmaster, sekolah catur!"


Irene juga membuktikan satu hal, bahwa untuk menjadi master, maka tidak bisa menjadikan satu bidang sebagai "sampingan". Pembuktian yang manis, bukan?


Seperti yang diungkapkan dalam artikel berjudul Seorang yang Cerdas Hanya Tahu Satu atau Dua Bidang Tapi Sampai Detail-Detailnya. Di artikel tersebut dikatakan bahwa, tidak ada salahnya sama sekali bila seorang doktor atau malah profesor di bidang sastra, tapi tidak tahu apa-apa tentang teori relativitasnya Einstein.


Juga, tidak masalah sama sekali seorang doktor atau profesor Fisika misalnya, tapi tidak tahu apa-apa tentang metode keaktorannya Grotovsky. Namun di Indonesia, ada banyak seorang yang belajar atau bekerja di bidang A, tapi terlalu banyak bicara di bidang B. Hasilnya, justru terlihat tolol, bukan?


Bukan Master Pertama yang "Turun Gunung"


Selain catur, banyak bidang lain yang punya banyak pakar. Bidang lain tersebut juga sangat sering direcoki oleh yang bukan pakar. Seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kesehatan misalnya, tiba-tiba bicara tentang obat-obatan. Seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang virus, bicara tentang sumber Corona. Darimana mereka mendapatkan sumber?


Yah, satu atau dua artikel di Internet membuat mereka merasa pakar. Tidak hanya itu, bidang-bidang lain seperti agama, seni, filsafat, sains, dan sebagainya juga tidak luput dari para "komentator" ini.


Memasak misalnya, yang nyaris semua ibu-ibu merasa mampu memasak selevel chef bintang lima. Bisa memasak mungkin hal yang lumrah, tapi bisa memasak selevel chef bintang lima itu berarti hasil dari ketekunan belajar, bila perlu sekolah atau kuliah. Kita lihat bagaimana para "master" chef di Indonesia "turun gunung" lewat acara di televisi. Hasilnya, mereka memasang standar yang baru bagi "kaum awam" tentang "memasak".


Karena itu, menurut Pojokreview, tidak ada salahnya para master turun gunung dan mendekati orang-orang awam. Tujuannya tidak hanya sekedar publikasi, promosi, dan maksud elementer lain. Tapi, menaikkan "kelas" mereka berarti menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan, pentingnya belajar dan sekolah. Maka, angka putus sekolah di Indonesia bisa ditekan, serta angka pengangguran di Indonesia juga bisa dikurangi.


Berapa persen di antara puluhan juta pengangguran di Indonesia itu sebenarnya mungkin berbakat bermain sepakbola? Atau berbakat di panggung teater? Atau berbakat di bidang lainnya? Maka mereka memutuskan untuk mempelajari bidang yang mereka kuasai dengan lebih intens, hingga sampai pula ke level "master". 


Kemudian, mampu membuka jalan sendiri, lalu membuka usaha sendiri. Tidak mengejar keseragaman pekerjaan karena stratifikasi sosial semu yang diciptakan masyarakat. Misalnya, bekerja yang keren itu harus pakai dasi, atau seragam tertentu. 


Pun menjadi blogger tetap saja bisa keren, kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh, bukan?

1 komentar:

  1. Mantul emang nih mbak irene, dunia percaturan yang tadinya ga boming jadi langsung boming lagi

    ReplyDelete
Next article Next Post
Previous article Previous Post