close

Sunday, September 26, 2021

author photo

pojokreview.com - Apakah Anda sering melihat dua sudut pandang untuk gelas yang berisi setengah air? Yah, sebagian orang menyebut gelas itu setengah penuh. Dan sebagian lain menyebutnya setengah kosong.


Sebenarnya apa filosofinya? Sebenarnya, itu hanyalah sudut pandang seseorang yang menunjukkan kecenderungan dirinya. Orang yang menjawab gelas itu setengah berisi, ialah orang-orang yang optimis. Sedangkan orang yang menjawab gelas itu setengah berisi, ialah orang-orang yang pesimis.


Namun, optimis tidak selamanya baik. Dan pesimis juga tidak selamanya buruk. Kadang-kadang, rasa pesimis yang membuka tabir bahwa hidup ini sebenarnya tanpa makna. Maka hal yang sia-sia ialah mencari makna dari hidup yang tanpa makna ini. Setidaknya itu yang disampaikan para pemikir nihilis, ekstensialis, absurdis, dan para "pesimis" lainnya.


Optimis selalu berkaitan dengan semangat juang yang tanpa akhir. Jadi, kebaikan dari optimis ialah seseorang tidak mau menyerah begitu saja. Ketika ia terjatuh, maka ia akan bangkit lagi dan kembali berlari mengejar impiannya.


Namun, tidak hanya dua itu saja sudut pandang untuk gelas yang berisi setengah air. Berikut beberapa di antaranya: 


Dalam sudut pandang realistis, yang menyebut bahwa "hanya itu air yang saya punya sekarang".


Dalam sudut pandang relativist, ia menilai gelas itu penuh dengan "setengah berisi dan setengah kosong".


Dalam sudut pandang saintis, ia menilai gelas itu penuh dengan "setengah cair dan setengah gas".


Dalam sudut pandang skeptis, ia menilai "apakah udara itu benar-benar udara. Dan apakah airnya itu benar-benar air. Kita harus memastikannya"


Dalam sudut pandang ekonomis, ia menilai "bila segelas air minum seharga Rp500, maka gelas berisi setengah air itu harganya Rp250 perak."


Dalam sudut pandang utopis, ia menilai bahwa "harus ada kesamaan, kenapa air selalu di bawah. Ia juga bisa di atas dan udara yang pindah ke bawah."


Dalam sudut pandang kaum surealis, ia menilai "kenapa harus penanda setengah itu garisnya horizontal. Coba bayangkan bila garisnya vertikal, setengah air dan setengahnya lagi udara."


Dalam sudut pandang kaum agamais, ia menilai "meski cuma setengah, tapi syukuri. Ada banyak orang di luar sana yang kesulitan air."


Dalam sudut pandang nasionalis, ia menilai "air itu adalah kekayaaan kita. Kita adalah negeri maritim."


Dan dalam banyak sudut pandang lainnya, masih banyak perspektif yang didapatkan dari setengah gelas air tersebut. Tapi, meski berbeda perspektif, faktanya memang di gelas itu ada air setengahnya. Fakta itu tidak akan berubah, meski Anda memandangnya dalam perspektif manapun.


Itu justru menunjukkan betapa beragamnya manusia, dan beragam pula pemikirannya. Sesuatu yang harus kita terima di era global ini, ketimbang mendebatkannya.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post