close

Monday, January 12, 2026

author photo
Kucumbu Tubuh Indahku (2018). 1h 64m.

Di Indonesia, tubuh sering kali diperlakukan seperti barang bersama. Semua orang merasa berhak memberi komentar, menilai, dan—bila perlu—meluruskan. Dalam situasi sosial semacam ini, Kucumbu Tubuh Indahku (2018) karya Garin Nugroho hadir bukan sebagai tontonan yang ingin disukai, melainkan sebagai karya yang tampaknya sudah siap disalahpahami sejak awal. Dan barangkali itulah salah satu kejujurannya.

Film ini tidak bergerak dengan alur naratif yang rapi. Ia melompat, terdiam, berputar, lalu kembali ke luka yang sama. Dalam budaya menonton yang terbiasa dengan penjelasan dan resolusi, pendekatan ini kerap dianggap “sulit”—sebuah label yang sering kali berarti: tidak segera memberi kepuasan. Namun, justru di titik ketidaknyamanan itulah film ini bekerja. Tubuh dalam film ini tidak hadir untuk menghibur, melainkan untuk mengganggu ketertiban cara pandang kita terhadap identitas, gender, dan moralitas.

Tubuh, Lengger, dan Identitas yang Dipersoalkan

Kucumbu Tubuh Indahku atau yang juga dikenal dengan judul Memories of My Body ini mengikuti perjalanan hidup Juno, seorang anak laki-laki yang sejak kecil mengalami kekerasan, kehilangan, dan keterasingan. Tubuh Juno tumbuh dalam ruang-ruang yang tidak ramah: keluarga, lingkungan sosial, hingga struktur moral yang kaku. Ia menemukan ruang ekspresi melalui tari Lengger—tarian tradisional Jawa yang secara historis dimainkan oleh laki-laki dengan karakter feminin. 

Tari Lengger sendiri merupakan bentuk kesenian tradisional Jawa yang sejak awal memang berada di wilayah ambang. Dalam praktiknya, Lengger kerap dimainkan oleh laki-laki yang menampilkan gestur feminin, dengan gerak yang lembut, ekspresif, dan sarat simbol. Ia tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga memiliki dimensi ritual dan spiritual—terutama dalam konteks pedesaan Jawa—di mana penari dipercaya menjadi medium antara tubuh manusia, tradisi, dan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Posisi Lengger yang tidak sepenuhnya tunduk pada kategori gender modern inilah yang membuatnya bertahan sebagai praktik budaya yang ambigu: dirayakan sebagai seni, tetapi sekaligus dicurigai karena menolak kepastian identitas.

Namun Lengger tidak otomatis menjadi ruang aman. Ia justru memperlihatkan betapa tubuh yang berada “di antara” sering kali dianggap mencurigakan. Juno berpindah dari satu ruang ke ruang lain, dan setiap perpindahan meninggalkan jejak trauma. Narasinya tidak linear, seperti ingatan tubuh yang tidak pernah benar-benar patuh pada kronologi.


Kekuasaan, Ambiguitas, dan Trauma Tubuh

Dalam kerangka pemikiran Michel Foucault, tubuh selalu berada dalam jaringan kekuasaan. Ia tidak hanya diatur oleh hukum atau institusi, tetapi juga oleh norma sehari-hari: tatapan, gosip, dan komentar sok netral yang biasanya diawali dengan kalimat, “Saya nggak bermaksud apa-apa, tapi…”

Kucumbu Tubuh Indahku dengan telaten memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja secara mikro. Tubuh Juno tidak pernah sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Ia terus-menerus dinilai, diarahkan, dan secara implisit diminta untuk “menyesuaikan diri”. Normalitas dalam film ini hadir sebagai standar yang semua orang pahami, tetapi jarang ada yang bisa mendefinisikannya secara jujur.

Identitas, pada akhirnya, bukan soal siapa Juno, melainkan seberapa jauh ia bisa tidak mengganggu kenyamanan sosial di sekitarnya. Lengger menempati posisi simbolik yang krusial. Ia hidup di wilayah ambang: antara maskulin dan feminin, antara seni dan ritual, antara yang sakral dan yang dicurigai. Ambiguitas inilah yang membuatnya rawan ditolak.

Judith Butler menyebut gender sebagai sesuatu yang performatif—dibentuk melalui pengulangan tindakan, bukan fakta biologis yang tetap. Film ini menerjemahkan gagasan tersebut secara konkret. Tubuh laki-laki yang menari secara feminin tidak sedang “menyimpang”, melainkan sedang memperlihatkan bahwa identitas bisa bergerak tanpa harus meminta izin pada kategori.

Masalahnya, masyarakat kita cenderung menyukai kepastian. Pilihan ganda terasa lebih menenangkan daripada ruang abu-abu. Lengger, dengan segala ketidakpastiannya, menjadi terlalu jujur. Dan kejujuran semacam ini sering kali dianggap tidak sopan.

Salah satu kekuatan film ini terletak pada caranya menolak menjelaskan trauma secara verbal. Tidak ada dialog panjang yang menjabarkan perasaan Juno. Sebaliknya, trauma hadir melalui tubuh: gerakan yang tertahan, tatapan yang ragu, napas yang tidak pernah benar-benar longgar. Ketika Juno menari, tubuhnya tampak bebas, tetapi wajahnya tetap memikul kecemasan. Film ini mengingatkan bahwa trauma bukan peristiwa yang selesai di masa lalu, melainkan ritme yang terus membentuk cara seseorang hadir di dunia. Pendekatan ini memang tidak ramah bagi penonton yang ingin “dijelaskan”. Namun barangkali, tidak semua luka perlu diterjemahkan menjadi kalimat.


Kontroversi, Kritik, dan Ruang Dialog

Secara visual, kamera bekerja sangat intim. Close-up pada kulit, keringat, dan napas membuat tubuh Juno terasa nyata—bukan sebagai objek eksotis, melainkan sebagai ruang pengalaman. Editing yang tidak linear memperkuat kesan bahwa ingatan tubuh bekerja dalam fragmen. Beberapa long take, terutama saat Juno menatap kamera, terasa seperti monolog sunyi yang diarahkan langsung ke penonton. Tatapan itu tidak meminta simpati. Ia lebih mirip pertanyaan yang dibiarkan menggantung: kenapa tubuh ini terasa begitu mengganggu bagi kalian?

Penolakan terhadap film ini—sering kali oleh mereka yang tidak menontonnya—menjadi bagian dari narasi sosial yang tak terpisahkan. Film ini dianggap “berbahaya”, meskipun bahaya tersebut jarang dijelaskan secara konkret.

Dalam kacamata teori queer, reaksi ini dapat dibaca sebagai mekanisme pertahanan heteronormatif: upaya mempertahankan stabilitas identitas mayoritas dengan menyingkirkan yang ambigu. Ironisnya, tubuh yang menari sering kali dianggap lebih mengancam daripada tubuh yang melakukan kekerasan. Ini menunjukkan bahwa yang dipertahankan bukanlah moralitas, melainkan kontrol.

Di titik inilah film ini perlu dikritisi. Kepadatan simbol, minimnya dialog, dan struktur fragmentaris memang memperkuat gagasan, tetapi juga berisiko menciptakan jarak dengan penonton awam. Film yang berbicara tentang tubuh yang terpinggirkan justru berpotensi hanya diakses oleh lingkaran terbatas yang sudah terbiasa dengan bahasa seni kontemporer. Selain itu, masyarakat dalam film ini sering hadir sebagai entitas anonim yang represif. Konflik sosial cenderung dibaca secara biner: tubuh yang tertindas versus masyarakat yang menindas. Pendekatan ini efektif secara politis, tetapi menyederhanakan kompleksitas ketakutan sosial yang sebenarnya lebih berlapis.

Kemudian alih-alih menyederhanakan narasi, film ini justru akan lebih kuat jika membuka sedikit celah akses emosional—melalui relasi interpersonal yang lebih dikembangkan atau konteks sosial yang lebih beragam. Menghadirkan karakter sosial yang ragu, ambigu, atau bahkan simpatik namun terjebak norma bisa memperkaya kritik sosial film ini. Selain itu, film ini seharusnya tidak berhenti pada pemutaran. Diskusi publik, pengantar kuratorial, dan materi pendamping bisa menjadi bagian integral dari karya. Dengan begitu, Kucumbu Tubuh Indahku tidak hanya hadir sebagai objek kontroversi, tetapi sebagai proses dialog yang berkelanjutan.

Kucumbu Tubuh Indahku mengingatkan bahwa tubuh manusia bukan objek moral yang harus dirapikan, melainkan ruang hidup yang menyimpan luka, ingatan, dan kemungkinan perlawanan. Identitas tidak harus selesai, tidak harus rapi, dan tidak harus mudah dipahami.

Mungkin yang paling ditakuti bukanlah tubuh yang menari, melainkan kemungkinan bahwa suatu hari nanti tubuh tidak lagi meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri. Lengger tidak menawarkan jawaban. Ia hanya membuka ruang. Dan barangkali, di ruang itulah kita perlu belajar duduk sebentar—dan berhenti merasa paling berhak menilai.


This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post