Beberapa Hal yang Biasa Saja di Papua Tapi "Wah" di Jakarta dan Kota Lainnya

Ilustrasi Papua (sumber foto: EcoNusa)
PojokReview - Pulau Papua, tanah surga di timur Indonesia. Ada banyak cerita tentang keindahan alam, segarnya udara, birunya air dan menjulangnya pegunungan di sana. Keindahan lautnya, menjadikan siapa saja selalu tertarik menjadikan Pulau Papua sebagai destinasi wisata.

Tapi ada beberapa hal yang menarik, salah satunya diceritakan oleh akun Daeng Ipul di Quora terkait apa hal yang biasa saja di Papua, tapi menurut orang di daerah lain (khususnya Jakarta) adalah hal yang "wah".

Pajero dan Fortuner Menjadi Angkot Alias Plat Kuning

Angkutan umum di wilayah pegunungan Papua (sumber foto: Daeng Ipul di Quora)

Di daerah lain, jenis mobil SUV seperti Pajero, Fortuner dan setipenya tentu menjadi mobil yang hanya dimiliki oleh orang dengan penghasilan yang cukup tinggi. Setidaknya, menengah ke atas, kalau tidak orang kaya raya.

Namun, Daeng Ipul seorang penulis di Quora itu bercerita bahwa ketika ia pertama kali sampai ke tanah Papua, maka ia terkejut melihat mobil Pajero Sport yang harganya Rp 500 juta sampai Rp 700 juta itu, justru plat kuning, alias angkutan umum.

Di daerah bernama Lanny Jaya, ketika mereka sedang dalam perjalanan ke desa lainnya, kebetulan daerahnya adalah pegunungan. Ditambah akses jalan yang belum sepenuhnya aspal, menjadikan hanya mobil-mobil jenis itulah yang mampu mengangkut penumpang di Papua.

Seorang yang lain bernama Tommy Pamula berkata, ketika ia berada di Kabupaten Teluk Bintuni, Manokwari, yang bukan daerah pegunungan, ia terkejut ketika melihat deretan mobil offroad semacam Hilux, Strada, dan Ranger. Awalnya ia menyangka itu adalah rombongan offroad.

"Ternyata barisan para angkot," kata dia dalam kolom komentar.

Seorang yang memberi komentar lainnya berkata bahwa ia tiba di terminal Sorong dan terkejut melihat deretan mobil besar yang parkir di sana. Ia awalnya mengira bahwa itu showroom mobil bekas setipe Pajero dan Fortuner. Ternyata itu adalah terminal antar kota.

Berapa biaya transportasi dengan mobil tersebut? Ada yang memberikan kisaran tarifnya. Jarak 92 km untuk Wamena ke Tiom misalnya, ongkosnya naik "angkutan umum" di Papua tersebut adalah Rp 250 ribu.

Naik Pesawat dengan "Nyeker" dan Bersama Babi

Naik Pesawat di Papua
Akun bernama Husnul Hidayat mengomentari tulisan Daeng Ipul itu dengan cerita bahwa babi hidup bisa dibawa naik bersama penumpang di pesawat. "Hanya di Papua, babi hidup bisa naik pesawat, tanpa protokoler aneh-aneh," kata dia.

Yah, naik pesawat di Papua adalah satu hal yang lumrah. Hanya sedikit saja yang menenteng koper, travel bag, pakai kacamata hitam dan pakai sepatu. Sisanya, kebanyakan "nyeker" alias hanya pakai sendal jepit.

Sebab, pesawat di Papua adalah perjalanan dari satu kampung ke kampung lain yang terletak di distrik sebelah. Anda akan bertemu seseorang yang jalan kaki ke Bandara, naik pesawat, terus turun dan jalan kaki lagi ke rumah tujuan. Tentunya, di daerah lain sangat berbeda, di mana naik pesawat berarti ke luar daerah, bahkan ke luar pulau.

Karena seperti naik angkot, maka Anda juga akan menemukan bagaimana pengalaman naik pesawat sebagaimana naik angkot. Ada banyak hal yang ikut bersama penumpang. Misalnya, babi, ayam dan hewan lainnya.

Makan Daging Rusa, Lobster dan Kepiting Besar


Makan daging rusa, lobster dan kepiting besar tentunya merupakan hal yang "wah" di kota-kota besar, kalau tidak bisa disebut langka. Namun di daerah pantai, seperti Papua Barat, maka daging rusa adalah hal yang cukup mudah ditemukan dan dijual.

Lobster dan kepiting yang besar-besar juga dijual dan ditemukan dengan mudah. Makanya, hal ini tergolong "wah" di tempat lain. Kalau di kota besar, ingin makan lobster atau kepiting besar, tentunya mesti membayar mahal di restoran seafood. Sedangkan daging rusa? Entah di restoran mana bisa menemukan daging rusa di kota besar.

Pemandangan Alam yang Hijau, Air Jernih dan Langit Biru

Hutan di Papua (sumber foto: trubus.id)
Ini mungkin hal yang sangat wah di Jakarta, dan Anda mesti menghabiskan banyak uang untuk berkunjung ke Puncak untuk melihat pemandangan alam yang hijau dan langit yang biru. Tapi di Papua, itu adalah hal yang biasa. Setiap membuka mata di pagi hari maka pemandangan alam yang hijau inilah yang akan terlihat.

Menurut data terkini, hutan Papua masih cukup luas, mencapai 30 juta hektar (ha). Sayangnya, jumlah tersebut turun terus setiap tahunnya, sekitar 25% per tahun, khususnya di Papua Barat. Sejumlah proyek besar mengancam hutan di Papua. Meski saat ini Papua masih destinasi wisata alam alias wisata hijau, namun bila dibiarkan terus menerus, Papua bisa kehilangan hutannya secara signifikan. Ini tidak hanya membahayakan Indonesia, tapi iklim global.

Tentunya kita mesti sama-sama menjaga dan mengawasi karena hutan papua salah satu rimba terakhir di Nusantara untuk tetap menjaga keseimbangan alam. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh EcoNusa Foundation yang hadir dengan visi "Beradat Jaga Hutan Papua" yakni dengan cara menjaga hutan dengan kearifan lokal dan adat istiadat setempat.

Apalagi setelah ibukota akan pindah ke Kalimantan, maka hutan Papua telah menjadi harapan terakhir bagi Indonesia untuk tetap bertahan.

Karena bersama hutan Papua, kita bisa tetap menjaga iklim global dan bumi ini bisa tetap nyaman untuk ditempati.Bila tidak, maka memandang alam yang hijau dan langit yang biru, bisa jadi hal yang "wah" juga di ujung timur Indonesia ini.

Jadi tertarik benar ingin ke Papua, bukan? Belum lagi dengan budaya dan adatnya yang unik dan menarik. Sepertinya, mesti menyiapkan waktu, uang dan tenaga untuk berkunjung ke bumi Cendrawasih ini, suatu hari nanti.

No comments:

Powered by Blogger.