Review Buku: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee

Daftar Isi [Tutup]
     I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee 
    Judul : I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
    Penulis : Baek Se Hee
    Penerjemah : Hyacinta Louisa
    Penerbit : Haru
    Cetakan pertama, Agustus 2019
    236 halaman

    Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?

    PojokReview.com - Buku ini adalah esai yang ditulis berdasarkan pengalaman Baek Se Hee, sang penulis yang mengalami distimia dan gangguan kecemasan selama lebih dari sepuluh tahun namun sangat suka makan tteokpokki, kue beras pedas dari Korea. Distimia didefinisikan sebagai suasana hati rendah yang terjadi minimal dua tahun, bersama minimal dua gejala lain dari depresi. Contoh gejala termasuk hilangnya minat dalam kegiatan normal, putus asa, rendah diri, nafsu makan rendah, energi rendah, perubahan tidur, dan konsentrasi yang buruk.

    Penanganannya termasuk pengobatan dan terapi bicara. Orang yang mengalami distimia biasanya akan mengalami perasaan yang hampa namun juga sebaliknya, seperti judul dari buku ini, ingin mati tapi masih memikirkan makanan, jajanan kaki lima berupa tteokpokki.

    Esai dalam buku ini cukup menarik, bagaimana penulis menyampaikan melalui tulisannya yang berbentuk dialog antara dirinya yang seorang pasien dan psikiater yang menangani Baek Se Hee.

    Merupakan buku self-improvement, pertanyaan, penilaian, saran, nasihat dan evaluasi diri pada sesi konseling yang dipaparkan dalam buku ini, sangat membantu pembaca agar bisa menerima dan mencintai dirinya sendiri.

    Aku : Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja?
    Psikiater : Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki?
    Aku : Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri

    Tidak hanya berbentuk dialog antara pasien dan psikiater, di dalam buku ini juga terdapat halaman berisikan pikiran penulis ataupun kalimat dari psikiater, berupa narasi dan deskripsi yang banyak diantaranya dapat dimengerti oleh pembaca atau relateable. Terdapat kalimat-kalimat yang dikutip dan sangat memotivasi terutama bagi pembaca yang juga mengalami masalah atau kesedihan hingga depresi. Karena isi buku yang relateable tersebut, I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki mendapatkan sambutan yang baik sehingga mendapatkan predikat bestseller di Korea Selatan.

    Selain memang apa yang disampaikan dalam buku ini bagus, desain halaman yang berwarna serta pembagian bab yang menyesuaikan dengan sesi konseling mingguan penulis memudahkan pembaca dalam memahami isi buku serta nyaman saat membaca buku ini.

    Namun, solusi dari penanganan psikologi sang penulis yang mengidap distimia belum benar-benar tuntas, karena buku ini akan berlanjut ke buku yang kedua. Meskipun begitu, bagi yang membutuhkan motivasi ataupun ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana sesi konseling yang sebenarnya dapat menjadikan buku ini sebagai referensi. Terutama untuk yang menyukai ilmu psikologi, segera deh dibaca bukunya.

    “Rasa percaya bahwa meskipun bukanlah hari yang sempurna, hari ini bisa menjadi hari yang cukup dan baik-baik saja. Rasa percaya bahwa hidup adalah ketika aku merasa depresi seharian penuh, aku masih bisa tersenyum hanya gara-gara sebuah hal sekecil apapun.”- Baek Se Hee

    Tinggalkan Komentar