Resensi Novel Holy Mother : Kasih Ibu Dibalik Pembunuhan yang Epik

Daftar Isi [Tutup]


    Informasi buku

    Judul : Holy Mother
    Penulis : Akiyoshi Rikako
    Penerjemah : Andry Setiawan
    Tahun terbit :
    Tebal : 284 halaman

    Alih-alih mengungkap kasus pembunuhan seperti pada Girls in The Dark, Akiyoshi Rikako kali ini tampaknya lebih ingin pembaca mengungkap siapa dan apa  sebenarnya hubungan antara Honami dan Makoto?

    "Yang bisa melindungi senyumnya, hanya aku sendiri..."

    Novel yang bergenre j-lit penuh misteri ini menyuguhkan cerita yang epik dari pembunuhan anak laki-laki beruntun di sekitar tempat tinggal Honami. Honami yang pada kenyataannya dulu sulit mempunyai anak, benar-benar bertekad untuk menjaga anak semata wayangnya ketika tahu lebih lanjut bahwa korban dari pembunuhan tersebut adalah anak-anak. Ia juga semakin mengkhawatirkan Kaoru, seorang anak perempuan manis yang tinggal bersama Honami, ia masih kecil dan setiap harinya harus ke playground karena Honami pun harus bekerja.

    Pada awal cerita Akiyoshi benar-benar memperlihatkan penjabaran kisah dan latar belakang yang baik dan menjadikan pembacanya penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya. Pada setiap narasinya menghadirkan kepercayaan kita terhadap apa yang terjadi, bahwa ada kasus pembunuhan anak dan seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Semuanya tampak klise di awal namun tetap seru untuk di baca.

    Di sisi lain, Makoto, seorang siswi SMU yang juga anggota Klub Kendo dengan senang hati menjalankan aksinya, sehabis bekerja di minimarket, ia akan melatih  anak-anak di playground seni beladiri Kendo. Bermodalkan tas kendonya, Makoto acap kali menyembunyikan korbannya di dalam tas itu.

    Pada awalnya Makoto mengajak salah satu anak dengan diiming-imingi mainan ke rumahnya, lalu di rumahnya ia memaksa anak itu untuk ke kamar mandi sekedar buang air kecil lalu mencekiknya. Dan ya, aksi pembunuhan itu dijabarkan dengan pemilihan diksi yang baik, cukup membuat pembacanya bergidik ngeri namun kisahnya masih terlihat indah sebab hal itu memperlihatkan sisi kepuasan dan kesenangan dari sang pelaku pembunuhan. Tetapi, kesenangannya tak berlangsung lama, karena detektif mulai curiga dan sempat memerika tas kendo Makoto saat ia berada di jalan pulang, tentu saja Makoto jadi merasa tidak aman.


    Bagian menarik lainnya adalah, Makoto selalu mengebiri dan menyimpan alat kelamin korbannya, kemudian ia memandikan korbannya dengan pemutih. Sang penulis memilih karakterisktik pembunuh yang unik. Karena.. cerdik bukan? Menghilangkan seluruh bukti yang mungkin tertinggal. Di sini, Akiyoshi juga menampilkan latar belakang sang pembunuh, meski tersirat, jelas terlihat bahwa Makoto punya masalah sendiri dengan hal yang berbau seksual, ada masa lalu yang mengarahkan Makoto untuk berbuat hal keji tersebut, kalau dipikir-pikir apalagi jika bulan pelecehan seksual? Alih-alih mengungkapnya langsung, novel ini memberi petunjuk satu persatu dibalik narasi panjangnya.

    Berlanjut, sepasang detektif mulai ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan. Kedua detektif itu sempat menghampiri rumah Honami, meminta kesaksian sebagai penduduk setempat. Honami yang memang sudah khawatir sejak awal, berinisiatif untuk menyimpan nomor detektif tersebut, berjaga-jaga apabila ada sesuatu nantinya.

    Tepat saja, pada larut malam Honami melihat sosok mencurigakan membawa tas, dan berpakaian hitam, gerak-geriknya pun terlihat aneh, langsung saja Honami menghubungi detektif. Namun setelah diselidiki, Honami bertambah khawatir karena ternyata sosok yang ia lihat malam itu bukanlah pelakunya.

    Pembunuhan kedua pun terjadi, Honami semakin gelisah, karena tidak ada kemajuan dari pihak kepolisian mengenai kasus tersebut, Honami memilih untuk membuntuti sosok pria yang kemarin ia curigai, walau penuh kecemasan Honami berhasil mencuri kunci rumah pria itu dan mendapat berbagai informasi. Tateshina, nama pria itu, Honami ternyata pernah mengenal Tateshina dahulu, dan  ia benar-benar terkejut ketika melihat album foto putrinya yang di ambil diam-diam di saat ia memeriksa rumah Tateshina. Tidak hanya itu, Honami juga menemukan video pelecehan seksual di mana anaknya yang masih gadis adalah korban di dalam video tersebut.

    Kronologi dari kisah tersebut kembali menimbulkan tanda tanya dan spekulasi para pembaca, dan tentunya dengan berbagai hal yang ditemukan Honami di rumah Tateshina jelas menunjukkan bahwa Tateshina adalah sang pelaku. Namun nyatanya, tidak semudah itu karena novel ini benar-benar mempermainkan pembacanya melalui alur yang tak terduga. Plot-twist katakanlah.

    Kemudian, Honami yang bersumpah tidak ingin terjadi sesuatu dengan putrinya, membunuh Tateshina dan memanipulasi tempat kejadian perkara seolah-olah Tateshina bunuh diri dan menyesali perbuatannya. Hal ini terlihat seperti, seorang ibu yang benar-benar khawatir akan keselamatan anaknya, namun kembali menimbulkan pertanyaan, ada apa sebenarnya hingga Honami harus membunuh Tateshina padahal bisa langsung melaporkan pada polisi, dan jelas-jelas kita tahu bahwa pelaku sebenarnya adalah Makoto?  Alur misteri dalam novel ini benar-benar tersusun dan susah ditebak, sehingga para pembaca akan benar-benar menganga ketika tahu ending-nya.

    Makoto yang mendengar bahwa Tateshina dianggap sebagai tersangka atas pembunuhan yang ia lakukan menjadi lega. Tapi ia kembali takut karena ibunya mengabari bahwa detektif akan kembali melakukan penyelidikan. Ia tidak boleh tertangkapkan? Ibunya juga tidak boleh tertangkap atas pembunuhan Tateshina. Dan BOOM! Dari sini kita akan mengetahui fakta bahwa sebenarnya Honami selalu ingin melindungi putrinya Makoto, dan Makoto selalu ingin melindungi putrinya Kaoru dari anak lelaki. 

    Ini benar-benar alur yang epik dan mengejutkan, pada awalnya kita mengira bahwa Kaoru yang merupakan cucu Honami adalah anak dari Honami, dan Honami mengkhawatirkan Kaoru akan dibunuh oleh Makoto benar-benar salah besar. Pada kenyataannya, Honami mengkhawatirkan putri kesayangannya,  Makoto tertangkap dan kembali terpuruk.

    Kelicikan dari Ibu dan anak itu semakin terungkap.  Setelah menjemput Kaoru dan mendapat kabar akan ada pemeriksaan dari detektif, Makoto bergegas pulang dan mencari potongan kelamin korbannya di laci tempat ia biasa menyimpan, anehnya, potongan kelamin itu tidak ada. Honami yang melihat Makoto panik, menenangkan dan menyampaikan bahwa segala bukti pembunuhan sudah ditempatkan di rumah Tateshina.

    Makoto terkejut, ia masih mengingat Tateshina, pria yang pernah melalukan pelecehan terhadapnya dulu, dan ia mengkhawatirkan putrinya Kaoru terluka akibat Tateshina. Namun, ibunya berkata sambil menggendong cucunya Kaoru bahwa semuanya sudah berakhir dan tak akan ada korban lagi karena Tateshina telah mati.

    Bagian terakhir dari novel ini sangat menenggelamkan pembaca ke dalam ceritanya.  Kisah ibu dan anak yang unik dihadirkan Akiyoshi Rikako dalam misteri pembunuhan yang tidak biasa, dan setiap perpaduan kalimat untuk menyampaikan apa yang terjadi sukses membuat pembaca terperangah. Suasana dan kesan di dalam novel juga tergambar lebih hidup berkat deskripsi yang bagus serta pesan moral dalam setiap kisahnya. Lalu, ending-nya yang plot-twist adalah segala-galanya dari novel ini.

    Tertarik membaca novel ini, Anda bisa mendapatkannya di Bukalapak seharga Rp79.000.
    Tinggalkan Komentar