Review Novel "Absolute Justice" oleh Akiyoshi Rikako

Novel Absolute Justice oleh Akiyoshi Rikako

Seharusnya monster itu sudah mati...
Informasi buku : 
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Nurul Maulida 
Penerbit : Haru Media
Cetakan pertama, Mei 2018
Tebal buku : 268 hlm;19cm

~mengandung spoiler~

Absolute Justice mengangkat perihal bagaimana sudut pandang seseorang mengenai kebenaran. Melalui kisah seorang gadis SMA bernama Takaki Noriko dan tiga orang teman satu gengnya yang akan membuat kita geram serta terkejut Akiyoshi Rikako menyampaikan bahwa kebenaran tidak selalu baik dan baik pun belum tentu benar. 

Pada bagian awal, kita telah disuguhkan fakta bahwa tokoh utama dari novel ini telah mati, Imamura Kazuki dikejutkan dengan amplop berisi undangan datang atas nama Takaki Noriko, lantas ia menghubungi dua orang temannya yang juga merupakan teman Noriko untuk memastikan bahwa Norika telah mati. Merekapun milai mengingat-ingat kembali apakah4 ada cara atau suatu kejadian yanh dapat membuat Noriko tetap hidup. 

Kazuki yang terkejut itu dideskripsikan dengan diksi yang pas seolah-olah kita ikut terkejut, disertai dengan fakta atau peristiwa yang tak terduga meski di awal cerita, novel ini sebagaimana novel misteri Akiyoshi lainnya sungguh membuat kita penasaran. 

Ia sadar darahnya surut dari wajah. Tangannya menjadi dingin. Napasnya menjadi cepat dan putus-putus. Dibalik otak Kazuki yang kekuranhan oksigen, muncul wajah Noriko. Wajah wanita yang seharusnya sudah mati dibunuhnya 

Yang terbesit pertama kali pastilah siapa Noriko dan siapa yang mengirimkan amplop atas nama orang yang sudah mati itu? Kemudian, semakin kita lebih jauh membaca novel ini kita akan diperkenalkan ke beberapa tokoh yang akan terus muncul beserta apa yang terjadi di masa lalu berkaitan dengan Noriko. Meskipun tokoh yang terus bermunculan sedikit membuat kurang nyaman sebab kita juga terus menerus dipaksa untuk menyimpan informasi dan mengenal tokoh-tokoh tersebut, konflik yang hadir serta kemampuan penulis dalam merangkai kalimat menjadikan kita mengenyampingkan hal tadi. 

Mengenai kebenaran yang tidak selalu baik dan baik tidak menjamin suatu kebenaran akan kita ketahui dari kasus Noriko. Kesan baik benar-benar dihadirkan untuk Noriko  yang selalu menegakkan keadilan dan kebenaran, seperti contohnya kali ini ini Akiyoshi mengangkat apa yang kerap kali terjadi di Jepang meskipun cukup tabu untuk dibahas, yaitu pelecehan seksual terhadap perempuan di angkutan umum seperti bus atau kereta bawah tanah. 

Saat itu Kazuki menaiki bus sekolah yang dipenuhi pegawai kantoran, office lady dan pelajar. Bagian tubuh bawahnya diraba oleh seseorang dan pada saat itu Noriko mengagetkan seisi bus dengan flash kameranya, ia memfoto kejadian tersebut dan melaporkan pelaku ke pihak polisi di saat penumpang lain memilih pura-pura tidak melihat pelecehan itu. Lantas Noriko memperoleh tepuk tangan dari seluruh penumpang dan penghargaan dari kepala sekolah karena beritanya pun telah tersebar luas. 

Begitulah sosok Noriko yang dikenal berani menegakkan kebenaran. Namun, lama kelamaan sikapnya yang menjunjung kebenaran itu membuat siapapun menjadi kesal termasuk pembaca. Novel ini mulai mempermainkan pembaca karena sosok Noriko mulai menguak urusan pribadi teman-temannya di saat umur mereka sudah dewasa dengan alasan "kebenaran".

Pada saat itu sahabat Noriko yang sedang terkena masalah, akhirnya bercerita pada Noriko, awalnya kita melihat Noriko sebagai pendengar yang baik namun kita akan sadar bahwa ia melakukan itu atas dasar benar atau salah. Contohnya, Noriko membela, karena skandal yang sahabatnya alami meskipun terdengar buruk tapi tidak melanggar hukum. Tapi, Noriko merasa ada yang salah sehingga ia berkeinginan mengungkap skandal tersebut hingga mengusik sahabatnya itu. 

Noriko dari sosok yang diinginkan siapapun itu berubah menjadi sosok yang dibenci oleh sahabat - sahabatnya dan tentunya juga pembaca. Pada saat membaca kita akan merasa seperti ditelanjangi apabila Noriko sedang berusaha menguak kehidupan sahabatnya demi kebenaran yang tidak perlu Noriko ikut campuri. Sehingga pembaca tidak akan heran lagi jika sahabat Noriko akhirnya menyusun rencana pembunuhan dam berhasil. 

Kemudian, selain dalam plot cerita, kita menemukan keunikan dalam sudut pandang penyampaian cerita. Novel ini dibagi ke dalam empat bab dan satu epilog di mana berganti bab berarti berganti sudut pandang. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang pertama dari teman-teman Noriko. 

 Sedangkan pada bagian epilog, bukan Akiyoshi Rikako jika tidak menghadirkan plot cerita yang plot-twist. Setelah melakukan pertemuan, akhirnya kazuki bersama temannya memutuskan untuk datang ke lokasi yang tertera di dalam undangan dengan nama pengirim Takaki Noriko. Tempatnya tidak terlalu mencolok dan setelah masuk mereka kaget karena disambut dengan gadis yang mereka pikir adalah Noriko, Noriko pada usia SMA. 

Narasi dan deskripsi pada bagian itu memberikan sensasi menakutkan dan was-was untuk para pembaca. Kita mulai ikut berpikir bagaimana nasib kazuki dan yang lainnya. 

Apa Noriko akan balas dendam atau bagaimana? Namun, kita harus kembali memutar otak, tidak mungkinkan Noriko jadi kelihatan jauh lebih muda? Noriko usia SMA? Lagi-lagi kita dipermainkan, tentu saja itu bukan Noriko melainkan anak Noriko satu-satunya, Ritsuko yang mengundang mereka ke acara yang mereka sebut dengan pertemuan kenangan. 
Disini kita akan merasa lega, sekaligus sebal. Lega karena tidak akan terjadi semacam balas dendam sebab Noriko benar telah mati dengan dugaan kecelakaan sesuai dengan pola yang telah disusun. Sedangkan, sebalnya karena ya bagaimanapun juga mereka yang merupakan pembunuh Noriko jadi terbebas. Tapi tidak sampai di situ karena endingnya tidak seperti itu, dan kita juga akan berpikir  endingnya tidak boleh seperti itu. 

Absolute Justice menampilkan cara mengungkapkan kebenaran yang membuat merinding. Narasi yang menjelaskan bagaimana dalam pertemuan kenangan Ritsuko membeberkan video pembunuhan yang terekam di kamera yang dipasang Noriko di mobilnya. Bukankah itu benar-benar menjadi sesuatu yang menakutkan untuk Kazuki dan yang lainnya. 

Meski begitu, diam-diam Ritsuko sangat bersyukur ---- telah membunuh ibunya, karena ia sendiri tidak tahan dengan kebenaran mutlak ibunya itu. Ibunya bukanlah orang yang memiliki rasa kasih sayang ataupun belas kasihan, yang dilihat ibunya hanyalah benar atau salah. Jika seseorang salah maka ia berhak dihukum sesuai aturan yang berlaku. 

Walau sangat bersyukur dan berterima kasih Ritsuko tetaplah anak yang hidup bersama Noriko bertahun-tahun sebelum kematiannya. Ia juga diam-diam tertawa menikmati bagaimana teman-teman ibunya itu mendekam di penjara sebagai hukuman atas pembunuhan ibunya yang jelas-jelas merupakan tindak kriminal dan tidak dapat dibenarkan. 

Sampai pada bagian akhir, novel ini berhasil mencampur adukkan perasaan pembacanya. Dengan sudut pandang pertama Ritsuko yang mengungkapkan segala misteri dalam novel menjadikan ending plot-twist Absolute Justice benar-benar berhasil. 

Terakkhir, novel ini sangatlah informatif, bagi yang ingin belajar menulis rasanya perlu untuk membaca novel yang satu ini karena gaya penulisan Akiyoshi memang menakjubkan, memadukan bahasa yang cantik dengan keliaran pilihan diksi dalam menyampai ekspresi atau kejadian yang dialami tokoh. Selain itu, karena novel ini merupakan novel terjemahan dari Jepang, tentunya banyak istilah-istilah dan budaya Jepang yang dapat kita pelajari.



No comments:

Powered by Blogger.