Review Novel Tere Liye "Negeri Para Bedebah"



Informasi  buku :
Penulis : Tere Liye 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kesembilan, April 2015
440 hlm; 20 cm


Thomas dan orang – orang di sekelilingnya,  seperti judulnya memang bedebah. Meski memiliki kesan baik, seperti Thomas tidak lah termasuk dari serigala berbulu domba disekelilingnya. Namun, semakin di baca kita akan tahu mengapa novel ini adalah Negeri Para Bedebah.

Blurb 
Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata. 
Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah
Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan berkhianat. 

Negeri Para Bedebah di awali dengan Thomas seorang pembicara yang terkemuka di bidang Ekonomi dunia yang sedang diwawancarai oleh Julia. Buku ini sudah bikin gereget dari awal karena wawancara yang dilakukan di atas awan, alias di dalam pesawat, karena Thomas sebagai pejabat tinggi punya jam terbang yang padat. Julia menjadi salah satu alasan mengapa Thomas masih memiliki kesan orang baik-baik. Hal ini menjadikan kita penasaran, sebenarnya ada apa dan mengapa bisa di sebut sebagai bedebah. 

Ternyata Tere Liye mengambil pembahasan yang agak sulit jika tidak tahu menau atau memilih tidak mau tahu, yaitu perekonomian dunia, lebih tepatnya  krisis ekonomi dunia yang tidak bisa lepas dari hal-hal ilegal seperti pencucian uang atau money laundring, pasar gelap dan lain-lain. Namun, jika membaca dengan baik maka kita akan mendapat pengertian atau informasi mengenai hal tersebut, mengingat bagaimana penyampaian Tere Liye dalam tulisannya tertata rapi dan tidak membosankan. Judul untuk setiap bab pun asik dan menggambarkan kronologi cerita.

Tampak seperti mengangkat kasus Bank Central, novel ini menceritakan Bank Semesta yang sedang krisis dan berdampak ke seluruh bank-bank di bawahnya. Kemudian, yang menjadi fokus adalah Thomas yang membawa Om Liem pemilik Bank Semesta yang akan segera di tangkap akibat berbagai transaksi ilegal untuk kabur, dibantu dengan berbagai kenalan Thomas serta temannya di klub bertarung. 

Klise memang, pejabat tinggi dengan pelariannya karena akan segera ditangkap pihak polisi, namun kejadian yang terjadi, dialog dan deskripsi yang menjelaskan bagaimana Thomas membawa kabur Om Liem dan di buru waktu benar-benar menghadirkan perasaan sedang dikejar-kejar. Apa yang lebih melelahkan dan menakutkan selain di kejar oleh waktu? 

Thomas harus benar-benar menghilangkan jejak dengan cara apapun secepatnya, belum lagi kemistri Thomas dan Julia juga dihadirkan dari Julia yang tiba-tiba ikut terlibat akibat kekukuhannya ingin menguak apa yang sebenarnya terjadi juga apa yang ada dibalik kasus Om Liem setelah Thomas meyakinkannya bahwa ini semua bukan sepenuhnya salah Om Liem.  

Mulai dari situ, satu per satu kepingan rahasia terkuak, alur cerita menjadi maju mundur tanpa mengacaukan susunan narasi ataupun membuat pembaca kebingungan.  


Bagaimana awal merintis usaha, masa lalu dan latar belakang Thomas hingga pelarian menegangkan akibat urusan-urusan ilegal dalam perbankan terjabarkan dengan seru dan tentunya menambah wawasan. Kemudian, semakin menguatkan bahwa Om Liem tidak sepenuhnya salah dan Thomas sedang mencoba meluruskan segala hal sehingga kesan baik terhadap Thomas semakin mengalir di dalam cerita. Namun, pelarian penuh strateginya penipuan handal, tetap menjadikannya seorang bedebah. 

"Tidak ada skenario Russian Roullette dalam kehidupan nyata. Kita selalu saja punya kesempatan untuk memanipulasi situasi, bertaruh dengan sedikit keunggulan."

Hingga bagian epilog, kisah Negeri Para Bedebah tidak main-main, perihal uang dan mirisnya perekonomian serta hukum di dunia terutama Indonesia dapat kita lihat dalam runtutan cerita ini. Novel ini berlanjut di seri berikutnya yaitu Negeri di Ujung Tanduk. Lanjutkan membaca karena gaya bahasa dan pilihan kejadian yang ditampilkan dalam narasi novel sangat bagus. Cocok untuk pembaca yang suka dengan tema yang tidak terlalu ringan dan penulisannya yang ramah serta wawasannya atau ruang lingkup cerita yang luas. 

No comments:

Powered by Blogger.