Thursday, April 22, 2021

author photo

 


Informasi buku : 

Judul : Kim Ji-yeong; Lahir Tahun 1982 (82년생 김지영)

Penulis : Cho Nam Joo

Alih bahasa : Iingliana

Penerbit : Minumsa Publishing / PT Gramedia Pustaka Utama 

Tahun terbit : 2016 / 2019

Tebal buku : 192 hlm; 20cm


***


Kim Ji-yeong; Lahir Tahun 1982 merupakan novel yang mengangkat tentang feminisme dan juga mempotrait praktik misoginis melalui kisah Kim Ji-yeong. Cho Nam Joo di dalam novelnya menghadirkan sosok Kim Ji-yeong yang lahir tahun 1982 di mana pada waktu itu perbandingan angka kelahiran anak perempuan jauh di bawah angka kelahiran anak laki-laki. Kim Ji-yeong lahir di dalam keluarga yang tidak mengharapkan dirinya melainkan seorang anak laki-laki, ia seorang perempuan yang menjadi bulan-bulan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari. 


Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, serta istri yang melepaskan karier dan kebebasannya demi menjadi seorang ibu dan mengasuh anak. Terkejut, tertekan kemudian banyak hal yang tidak sesuai dengan jati dirinya, Kim Ji-yeong perlahan berubah dan bersikap aneh, ia mulai mengalami depresi. 


Sosok Kim Ji-yeong mengingatkan kita dengan R. A Kartini, tapi di era yang lebih modern. Kim Ji-yeong menginginkan kesetaraan gender dan keadilan. Meskipun tidak mengutarakannya secara langsung, hal ini terlihat dari paparan narasi ketika ibu Kim Ji-yeong yang mengandungnya namun nenek Kim Ji-yeong sama sekali tidak mengharapkan cucu perempuan. Kemudian ketika seluruh pekerjaan rumah hanya di kerjakan oleh anak perempuan, makanan lezat diutamakan untuk adik laki-laki Kim Ji-yeong, juga bagaimana perasaan Kim Ji-yeong saat ayahnya justru menyalahkan Kim Ji-yeong, menyuruhnya berpakaian dengan benar padahal yang ia pakai hanya seragam sekolah, menyuruhnya tidak pulang malam sedangkan jam belajar di Korea memang seperti itu, apalagi ketika para pelajar memiliki pelajaran tambahan atau harus mengikuti les. Kim Ji-yeong  yang saat itu harusnya dirangkul karena ia nyaris celaka sebab diganggu oleh anak laki-laki di malam hari justru dimarahi ayahnya. Dan bukankah anak laki-laki itu juga bersalah dalam hal tersebut? 


Novel ini menangkap kekhawatiran-kekhawatiran para wanita dengan tepat. Contoh lainnya adalah ketika Kim Ji-yeong berhasil diterima kerja, ia menghadiri acara minum-minum sesama rekan kerja, bos laki-lakinya memaksa Kim Ji-yeong untuk terus minum. Di saat-saat konyol dan tidak adil seperti itu Kim Ji-yeong tidak bisa menyuarakan isi hati dan pemikirannya.


Ia sudah beralasan bahwa ia sudah minum sampai melewati kapasitasnya, bahwa perjalanannya pulang ke rumah akan berbahaya, dan bahwa ia tidak bisa minum lagi, tetapi mereka kemudian berkata ada banyak pria di sana, jadi Kim Ji-yeong tidak perlu khawatir. 


Justru  kalian lah yang paling membuatku khawatir, pikir Kim Ji-yeong sambil diam-diam menuangkan minumannya ke gelas atau mangkuk kosong lain. (Halaman 115) 


Kemudian, saat orang-orang di sekitar Kim Ji-yeong mulai sibuk dengan urusan orang lain, berkata mengapa Kim Ji-yeong yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak, apa kau tidak sehat, dll. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu tapi tidak,


Kim Ji-yeong sama sekali tidak sedih. Yang tidak tahan dihadapinya adalah saat-saat seperti itu. Kim Ji-yeong ingin berkata bahwa ia sangat sehat, tidak butuh vitamin apapun, dan ia ingin membahas rencana keluarganya dengan suaminya sendiri, bukan dengan kerabat-kerabat yang baru pertama kali ditemuinya. Namun, yang bisa dikatakannya hanya, "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." (Halaman 133) 


Kim Ji-yeong paham betul masyarakatnya adalah masyarakat misoginis dan tidak seharusnya wanita menyuarakan pendapat dan menga"ada"kan dirinya lalu menuntut hak jika tidak ingin terlibat ke dalam suatu masalah. 


Namun, seiring waktu, Kim Ji-yeong yang harus melalui masa-masa kuliah, mencari pekerjaan, hingga sudah bekerja lalu menikah mulai tidak tahan dan puncaknya adalah ketika suaminya menyarankan supaya mereka memiliki seorang anak untuk mengatasi tanggapan dan pandangan orang lain. Suami Kim Ji-yeong ini cukup berpikiran terbuka dan penyayang, sehingga akhirnya Kim Ji-yeong  menyuarakan isi hatinya. Bahwa jika ia mengandung dan melahirkan anak maka akan banyak yang harus ia relakan. 


"Kau berkata kita sebaiknya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin akan kehilangan masa muda, kesehatan, pekerjaan, rekan-rekan kerja, teman-teman, rencana hidup, dan masa depanku. Karena itu aku selalu memikirkan apa yang hilang dariku. Tetapi apa yang hilang darimu?" (Halaman 136) 


Kim Ji-yeong tidak sanggup menyingkirkan perasaan tidak adil dan kehilangannya meskipun sang suami berkata bahwa ia akan banyak membantu Kim Ji-yeong yang terpaksa berhenti bekerja demi mengasuh anak. Kim Ji-yeong malah marah-marah dan berkata "Tidak bisakah kau berhenti mengoceh tentang bantuan?" Tetapi kemudian ia merasa menyesal dan meminta maaf. Ia sadar, situasinya tidak akan berubah atau malah memburuk. Kim Ji-yeong kembali kehilangan suaranya. Setahun setelah melahirkan putrinya, Kim Ji-yeong mengalami depresi dan harus menjalani perawatan. 


Novel yang sensasional dari Korea Selatan ini sebenarnya memiliki alur cerita yang cukup datar, dalam artian konflik-konflik yang ada tidak begitu kompleks. Namun, yang membuat novel ini begitu ramai dibicarakan dan menarik untuk dibaca, yaitu karena tokoh dan apa yang terjadi begitu realistis juga familiar. Tidak hanya familiar bagi pembaca di Korea namun juga pembaca di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kesetaraan gender telah diterapkan di Indonesia, pengembangannya belum sempurna. Maka dari itu novel Kim Ji-yeong lahir tahun 1982 ini bersifat universal. 


Novel ini menunjukkan bahwa menjadi seorang wanita apalagi seorang ibu tidaklah mudah. Masyarakat seharusnya berhenti memberikan penghakiman sendiri, menerapkan standar masyarakat atau kriteria-kriteria orang yang diterima masyarakat dan menebar kebencian jika seseorang tidak sesuai kriteria. Berhenti menerapkan siklus belajar, kuliah, bekerja, menikah, mempunyai anak dan mengurus anak, pensiun, lalu mati. Kebahagiaan dan bagaimana kita menjalani hidup adalah hak kita sendiri. 


Berhenti dengan pria yang harus mencari uang dan wanita yang mengurus anak. Berhenti menilai bahwa seorang wanita harus pintar karena kelak harus menjadi contoh dan mengajari anak-anaknya bukan karena memang diperbolehkan berkarier kemudian meraih esensi dan eksistensi sebagai seseorang, sebagai pribadi. Jangan menjadi seorang ibu atas dorongan pihak lain jika tidak menginginkannya dan tidak siap, psikologis dan kesiapan mental seorang ibu dalam merawat dan mendidik anak sangat penting, sebab hal tersebut sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang dan kondisi mental sang anak. 


Tetapi, sebagaimana Kim Ji-yeong yang menjalani hal seperti itu, menerima bahwa tidak banyak yang akan berubah. Pembahasan mengenai kesetaraan gender dan keadilan yang sempurna tidak akan menemui titik terang karena seperti itulah peran wanita. Yang berubah hanyalah wanita tetap bisa berkarier, namun tetap tidak bisa menghindar dari portrait seorang wanita di kalangan masyarakat misoginis, tetap tidak bisa meninggalkan peran sebagai seorang ibu. 


Kim Ji-yeong; Lahir Tahun 1982 telah diadaptasi oleh sutradara Kim Do-young menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Meski Kim Ji-yeong di dalam novel memiliki banyak kondisi di mana ia sulit menyuarakan pemikirannya, di dalam film Kim Ji-yeong banyak mendapatkan kesempatan untuk menyatakan pemikirannya dan menuntut keadilan terhadap orang-orang yang mendiskriminasi. Kim Ji-yeong adalah kita semua dan Cho Nam Joo sang penulis melalui tokoh dalam novelnya membagikan semangat kepada semua wanita untuk menjadi independent woman tanpa melupakan bagaimana peran sebagai seorang wanita. Akhir kata, semoga di mana pun dan dari mana pun Kim Ji-yeong yang ada, bisa segera pulih dan bangkit dari luka batin akibat hal-hal yang tidak menguntungkan sebagai wanita. 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post