close

Sunday, May 24, 2026

author photo

 

Ada sesuatu yang lucu dari negeri ini: pemerintah kita terbiasa dan menjadikan sebuah konflik, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan hingga nilai tukar rupiah yang terus merosot hal yang biasa, tapi tetap panik ketika semua itu dijadikan film dokumenter. Setidaknya, itu yang terlihat dari bagaimana beberapa agenda nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi belakangan ini dilaporkan dibubarkan aparat di sejumlah daerah. Situasi ini membuat banyak orang mulai bertanya: sebenarnya Pesta Babi membahas apa?


Dokumenter ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, dua nama yang selama ini dikenal aktif membuat karya dokumenter investigatif tentang isu sosial, lingkungan, dan hak masyarakat adat. Film ini diproduksi bersama WatchDoc dan berfokus pada masyarakat adat di Papua Selatan yang menghadapi dampak proyek pembangunan besar, ekspansi industri, serta proyek-proyek yang masuk dalam skema PSN atau Proyek Strategis Nasional.


Lewat visual yang mentah dan minim glorifikasi, Pesta Babi mencoba memperlihatkan bagaimana pembangunan tidak selalu diterima sebagai simbol kemajuan oleh masyarakat yang hidup langsung di wilayah terdampak. Alih-alih menghadirkan narasi besar tentang investasi dan pertumbuhan ekonomi, film ini justru fokus pada pengalaman masyarakat lokal: ketakutan kehilangan tanah, perubahan wilayah leluhur, hingga ketegangan antara warga, aparat, dan kepentingan pembangunan.


Yang membuat dokumenter ini semakin ramai dibicarakan bukan hanya isi filmnya, tetapi juga konteks sosial-politik di sekitarnya. Ketika pemutaran film mulai dibubarkan dan diskusi dianggap sensitif, publik mulai sadar bahwa isu yang dibawa film ini memang menyentuh persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar tontonan. Karena rupanya di negeri ini, jalan tol dan kawasan industri boleh dibicarakan di mana-mana, tapi begitu masyarakat adat mulai ikut bicara, suasananya mendadak jadi tidak nyaman.


1. Film Ini Membahas Papua dari Perspektif yang Jarang Masuk Narasi Resmi

Selama ini, Papua lebih sering dibicarakan lewat isu keamanan, konflik politik, atau proyek pembangunan besar. Namun suara masyarakat adat yang hidup langsung di wilayah terdampak sering kali tidak mendapat ruang sebesar narasi negara.

Lewat Pesta Babi, penonton diperlihatkan bagaimana masyarakat lokal memandang pembangunan dari sudut yang berbeda. Bagi pemerintah, proyek besar sering dipresentasikan sebagai bentuk kemajuan dan pemerataan ekonomi. Namun bagi masyarakat adat Papua, pembangunan justru menghadirkan rasa takut kehilangan tanah dan wilayah leluhur mereka sendiri.

Salah satu momen paling kuat dalam film ini muncul ketika seorang warga yang diwawancarai mengaku tidak lagi ingin mengibarkan bendera Indonesia. Bukan semata-mata untuk provokasi, tetapi karena baginya Indonesia justru terasa seperti penjajah di tanah Papua sendiri.

Pernyataan ini harusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan masyarakat kita karena ini memperlihatkan kenyataan bagaimana masyarakat adat memandang kehadiran negara dari pengalaman hidup mereka sendiri, bukan dari pidato politik atau slogan pembangunan.

Ketika tanah adat mulai hilang, hutan dibuka untuk industri, aparat hadir mengawal proyek, sementara masyarakat lokal merasa semakin tersingkir dari wilayah leluhur mereka sendiri, rasa keterasingan terhadap negara perlahan muncul dengan sendirinya.

Film ini juga memperlihatkan bahwa tanah bagi masyarakat adat Papua bukan sekadar aset ekonomi. Tanah berkaitan dengan identitas budaya, hubungan keluarga, sejarah leluhur, hingga cara hidup yang sudah diwariskan turun-temurun. Konflik pembangunan di Papua sering kali menjadi jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan investasi. Karena ternyata tidak semua orang bisa menukar hutan leluhurnya dengan presentasi tentang pertumbuhan ekonomi yang bahkan ternyata tidak menyejahterakan mereka. 

2. PSN Datang Bersama Janji Kemajuan. Dan Konflik.

Salah satu konteks penting dalam dokumenter ini adalah PSN atau Proyek Strategis Nasional. PSN merupakan program pembangunan yang diprioritaskan pemerintah dan mencakup berbagai sektor seperti jalan tol, bendungan, kawasan industri, tambang, food estate, proyek hilirisasi sumber daya alam, hingga pembukaan lahan skala besar. 


Papua menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam banyak agenda pembangunan tersebut karena dianggap memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Namun di lapangan, proyek-proyek besar sering kali memunculkan konflik agraria dan persoalan wilayah adat masyarakat lokal. Dalam berbagai laporan organisasi masyarakat sipil dan lembaga lingkungan, masyarakat adat di Papua beberapa kali menyuarakan kekhawatiran terkait pembukaan lahan, kerusakan hutan, hingga masuknya aparat keamanan di wilayah pembangunan.


Dokumenter Pesta Babi mencoba menangkap keresahan itu lewat pendekatan yang lebih personal. Film ini tidak hanya menjelaskan data statistik, tetapi memperlihatkan bagaimana ketegangan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat sehari-hari.

Dampak pembangunan di Papua yang disinggung dalam Pesta Babi juga tidak berhenti di persoalan lahan saja. Dalam banyak kasus, masyarakat adat harus menghadapi perubahan besar terhadap cara hidup mereka sendiri. Hutan yang sebelumnya menjadi sumber pangan dan tempat bertahan hidup mulai berkurang akibat pembukaan lahan dan proyek industri. Sebagian warga kehilangan akses terhadap tanah adat, sementara sebagian lainnya hidup di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di wilayah pembangunan.

Bagi masyarakat adat Papua, kehilangan tanah berarti kehilangan lebih dari sekadar tempat tinggal. Tanah berkaitan dengan identitas budaya, relasi keluarga, sejarah leluhur, hingga cara mereka bertahan hidup sehari-hari. Ketika wilayah adat mulai menyempit, yang ikut terancam bukan hanya ekonomi masyarakat, tetapi juga keberlangsungan budaya mereka sendiri.

Beberapa organisasi lingkungan dan masyarakat sipil juga berulang kali menyoroti risiko kerusakan ekologi di Papua akibat proyek berskala besar, mulai dari pembukaan hutan hingga eksploitasi sumber daya alam. Dampaknya bukan hanya dirasakan hari ini, tetapi juga berpotensi memengaruhi generasi berikutnya.

3. Kenapa Nobar Film Ini Banyak Dibubarkan?


Salah satu alasan kenapa Pesta Babi semakin ramai dibicarakan adalah karena beberapa agenda pemutaran dan diskusi publik film ini mengalami pembatalan atau pembubaran. Dalam banyak kasus di Indonesia, film dokumenter yang membahas konflik agraria, masyarakat adat, lingkungan, atau kritik terhadap pembangunan memang sering dianggap sensitif.

Biasanya alasan yang muncul berkaitan dengan keamanan, izin acara, atau kekhawatiran potensi gangguan ketertiban. Namun bagi banyak aktivis dan komunitas film independen, pembubaran semacam ini justru memunculkan pertanyaan besar tentang kondisi demokrasi di Indonesia: apakah ruang diskusi publik memang masih sebebas yang selama ini dibayangkan?”

Hal ini membuat Pesta Babi tidak hanya dipandang sebagai karya film dokumenter biasa, tetapi juga sebagai bagian dari diskusi yang lebih besar tentang kebebasan berekspresi dan hak masyarakat untuk membicarakan persoalan sosial. 
Banyak orang akhirnya penasaran terhadap film ini justru karena muncul pertanyaan sederhana: kenapa sebuah dokumenter bisa dianggap begitu mengganggu?  (Yah mungkin karena dokumenter tidak punya buzzer sebanyak proyek nasional).

4. Dokumenter Ini Membuat Publik Melihat Sisi Lain dari “Pembangunan”

Hal yang paling terasa setelah menonton Pesta Babi adalah bagaimana film ini membuat kata “pembangunan” terdengar jauh lebih rumit. Selama ini pembangunan sering dipahami lewat angka investasi, proyek infrastruktur, atau pertumbuhan ekonomi. Namun dokumenter ini memperlihatkan bahwa selalu ada dampak sosial yang ikut berjalan bersamaan dengan proyek-proyek besar. Ketika hutan dibuka, lahan dialihkan, atau aparat masuk ke wilayah tertentu, masyarakat lokal menjadi pihak yang paling dulu merasakan perubahan tersebut.

Film ini tidak secara langsung meminta penonton menolak pembangunan. Namun Pesta Babi mendorong publik untuk mempertanyakan sesuatu yang sering terlupakan: pembangunan untuk siapa, dan siapa yang harus membayar harga paling besar dari pembangunan itu? Karena di tengah derasnya berita tentang proyek nasional dan investasi besar, film ini mengingatkan bahwa selalu ada manusia yang hidup tepat di balik angka-angka tersebut.

Pesta Babi penting bukan cuma sebagai dokumenter, tetapi juga sebagai pengingat bahwa masyarakat adat, wilayah leluhur, dan lingkungan bukan sekadar “efek samping pembangunan” yang bisa diabaikan begitu saja. Maka dari itu film seperti ini perlu terus dibicarakan. Ketika ruang diskusi mulai dibatasi, ketika pemutaran film mulai dibubarkan, dan ketika suara masyarakat terdampak semakin sulit terdengar, publik justru perlu semakin banyak bertanya dan memperhatikan.

Isu tentang masyarakat adat, wilayah leluhur, dan dampak pembangunan bukan persoalan yang bisa selesai dalam satu pemberitaan viral lalu dilupakan begitu saja. Ada kehidupan nyata yang sedang dipertaruhkan di dalamnya.

Dan kalau Pesta Babi berhasil membuat publik mulai melihat dan mempertanyakan ulang apa yang sebenarnya terjadi di Papua, mungkin itu sudah menjadi alasan yang cukup kenapa film ini perlu terus ditonton, dibicarakan, dan diperjuangkan.


 


This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post