Di era modern, kopi sudah bukan
sekadar minuman. Ia naik kelas jadi semacam “paket lengkap pengalaman
emosional”: ada rasa hangat, ambience yang dibuat nyaman, musik pelan yang
seolah mengerti hidup kita, dan ilusi kecil bahwa kita sedang ditemani. Dari situ,
tidak terlalu berlebihan kalau film Pangku terasa relevan. Karena film ini
tidak sedang bicara kopi sebagai produk, tapi sebagai pintu masuk untuk melihat
bagaimana kedekatan emosional pelan-pelan ikut masuk ke katalog barang yang
bisa dibeli.
Pangku tidak dibuka dengan dunia
yang baik-baik saja. Film ini mengambil latar di pesisir utara Jawa pada masa
krisis ekonomi, ketika hidup terasa seperti sesuatu yang harus terus
diselamatkan dari hari ke hari. Di tengah situasi itu, muncul ruang bertahan
hidup yang tidak resmi, salah satunya kopi pangku: warung kopi yang berakar
dari praktik sosial di jalur Pantura, di mana perempuan tidak hanya menyajikan
kopi, tetapi juga menemani pelanggan duduk, berbincang, dan menciptakan rasa
“ditemani” yang menjadi bagian dari layanan itu sendiri. Praktik ini lahir dari
ruang ekonomi pinggiran, ketika interaksi sosial dan kebutuhan bertahan hidup
saling bertumpuk tanpa batas yang tegas, dan perlahan berubah menjadi bentuk
komodifikasi kedekatan.
Disutradarai oleh Reza Rahadian,
film ini mengikuti Sartika (Claresta Taufan), seorang ibu tunggal yang masuk ke
dunia tersebut bukan karena ingin “mencari pengalaman baru”, tapi karena tidak
banyak pilihan lain yang tersedia. Di titik ini, Pangku tidak lagi terasa
seperti cerita individu, melainkan potret tentang bagaimana sistem ekonomi ikut
mengatur cara manusia bertahan hidup, termasuk bagaimana mereka tersenyum,
mendengarkan, dan menjual rasa hangat.
Dari sini, film ini mulai
membuka dirinya sebagai cermin yang tidak nyaman untuk dunia yang kita anggap
modern hari ini.
1. Kopi,
obrolan, dan kedekatan yang “disediakan”
Di Pangku, kopi itu sebenarnya
agak seperti alasan administratif. Orang datang bukan karena ingin
mengeksplorasi rasa biji Arabica, tapi karena ingin merasa ada yang menemani
duduk sebentar di hidupnya. Obrolan ringan, tawa yang dijaga tetap hangat, sampai
gesture kecil yang membuat pelanggan merasa “dilihat”. Semuanya jadi bagian dari
pengalaman (meskipun di dalam budaya kopi pangku ini, pengalamannya bukanlah pengalaman yang bagus untuk perempuan).
Kalau mau jujur, ini juga tidak
jauh dari realitas coffee shop hari ini. Kita membeli kopi, tapi juga membeli
rasa berada di ruang yang terasa lebih manusiawi dari kamar sendiri. Bedanya,
Pangku tidak membungkus itu dengan estetika latte art dan playlist indie; ia
menunjukkan versi yang lebih langsung: kedekatan bisa diproduksi, dan karena
bisa diproduksi, ia juga bisa diberi harga.
Sartika dan logika kapitalisme yang tidak romantis
Sebagai ibu tunggal, Sartika
sejak awal tidak berada dalam posisi “pilihan ideal”. Ia masuk ke dunia kopi
pangku sebagai cara bertahan hidup, bagaimana tetap bekerja, tetap merawat
anaknya, tetap berjalan di tengah ekonomi yang tidak memberi banyak ruang.
Di sini kapitalisme bekerja dengan cara yang tidak selalu keras secara visual, tapi sangat sistematis: ia membuat tubuh dan emosi ikut masuk ke dalam strategi bertahan hidup. Sartika tidak hanya menjual martabat, waktu atau tenaga, tapi juga kemampuan untuk tetap hangat di depan orang lain. Ia harus bertahan ramah dan menciptakan rasa nyaman di ruang yang tidak sepenuhnya memberi rasa aman untuk dirinya sendiri.
Inilah wajah kapitalisme yang paling sehari-hari: ketika bertahan hidup perlahan berarti menjual bagian paling manusiawi dari diri sendiri.
Kesepian yang berubah jadi ekonomi
Semakin lama film ini bergerak,
semakin jelas bahwa yang dijual bukan hanya kopi atau interaksi, tapi kesepian
itu sendiri. Pelanggan datang dengan kebutuhan yang sederhana tapi dalam: ingin
merasa ada yang merespons keberadaan mereka serta melepas penat, meski hanya
untuk sementara. Kesementaraan itu membuat laki-laki jadi figur yang seolah
bisa datang dan pergi kapan saja, tapi tampaknya Reza sebagai sutradara lebih
ingin menunjukkan bahwa, kondisi ekonomi baik dari pelanggan dan penjual sama-sama
menyudutkan keduanya. Siapa yang bisa mempertaruhkan sebuah cinta yang tulus di
keadaan ekonomi yang carut marut? Tentu para sopir itu tidak bisa berdiam diri
lebih lama dan harus kembali bekerja, dan mungkin menemui “kopi pangku” lainnya
di pemberhentian selanjutnya untuk kembali melepas penat, mengobati kesepian, kemudian
menganggap ini hanya bagian dari pekerjaan.
Dan ini yang membuat Pangku
terasa dekat dengan dunia sekarang. Karena kita juga hidup di ekosistem yang
kurang lebih sama, hanya bentuknya lebih rapi. Media sosial menjual koneksi,
coffee shop menjual ambience, layanan digital menjual “kedekatan instan”.
Semuanya berputar di satu hal yang sama: rasa tidak ingin sendirian di tengah sistem
yang memaksa kita kuat sendirian.
Kedekatan yang tidak pernah sepenuhnya bersih
Menariknya, film ini tidak
memilih jalan mudah dengan mengatakan semua hubungan di dalamnya palsu. Ada
momen-momen kecil yang justru terasa terlalu manusiawi untuk disederhanakan
sebagai transaksi. Ada perhatian yang awalnya “pekerjaan”, tapi pelan-pelan
kehilangan batasnya sendiri.
Di situ Pangku jadi agak
mengganggu dengan cara yang tidak heboh: ia mengingatkan bahwa manusia tetap
manusia, bahkan ketika sistem ekonomi mencoba merapikan semuanya menjadi
hitungan layanan dan harga. Emosi tidak selalu patuh pada logika transaksi, meski
sering dipaksa masuk ke dalamnya.
Pada akhirnya, Pangku tidak sedang berusaha meromantisasi kedekatan, tapi juga tidak bisa untuk menyebut semuanya sebagai kepalsuan. Film ini menempatkan kehangatan di ruang yang tidak nyaman: di antara kebutuhan untuk bertahan hidup dan kebutuhan untuk tetap merasa terhubung. Melalui Sartika sebagai ibu tunggal, kapitalisme tidak hanya hadir sebagai latar ekonomi, tetapi sebagai struktur yang ikut membentuk bagaimana seseorang bekerja, merawat, tersenyum, dan bertahan. Di ruang kopi pangku, kedekatan memang bisa dibeli, tetapi tidak pernah benar-benar sepenuhnya steril dari kemungkinan untuk terasa manusiawi, meski selalu datang dengan harga yang ikut menempel di dalamnya.


This post have 0 komentar