Ada dua tipe orang ketika
sedang merasa kehilangan seseorang: orang yang bisa langsung lanjut hidup
seperti biasa, dan orang yang tiba-tiba merasa semua lagu galau di playlist
mendadak terasa sangat personal.
Mayoritas orang akan
lebih dekat ke tipe yang kedua. Mungkin itu kenapa penonton merasa sangat dekat
dengan film ini. Film garapan sutradara hongkong Wong Kar-wai ini bukan film
romansa biasa yang sibuk memperlihatkan orang menangis di bawah hujan sambil
teriak memanggil nama mantan. Chungking Express justru terasa seperti
isi kepala orang yang belum selesai dengan kehilangan, tapi juga terlalu gengsi
untuk mengakuinya.
Dirilis pada tahun 1994,
film ini dibintangi oleh Takeshi Kaneshiro (Cop 223), Tony Leung Chiu-wai (Cop
663), Faye Wong (Faye), Brigitte Lin (Woman in Blonde Wig) dan Valerie Chow
(Flight Attendant). Sampai sekarang, Chungking Express masih sering
disebut sebagai salah satu karya terbaik Wong Kar-wai karena visualnya yang
dreamy, warna neon yang terasa kesepian, dan cara film ini menggambarkan kota
besar sebagai tempat yang ramai tapi tetap sunyi.
Namun yang paling menarik
buat saya adalah cara film ini membahas patah hati. Wong Kar-wai tidak
menggambarkan putus cinta sebagai tragedi besar. Sebaliknya, ia menunjukkan
bagaimana manusia berubah jadi sedikit aneh setelah kehilangan seseorang.
Dan jujur saja, beberapa
coping mechanism di film ini terlalu relate untuk diabaikan.
1. Mengikat Diri pada
Rutinitas dan Benda
Cop 223 punya cara unik
menghadapi patah hati: membeli nanas kaleng dengan tanggal kedaluwarsa 1 Mei.
Bagi orang lain, itu
mungkin cuma makanan kaleng biasa. Tapi bagi dia, expiration date berubah
menjadi deadline emosional. Kalau sampai tanggal itu mantannya belum kembali,
maka semuanya benar-benar selesai. Saya suka bagaimana Wong
Kar-wai memperlihatkan bahwa manusia sering mencoba menciptakan kontrol kecil
ketika hidup emosionalnya sedang berantakan. Karena ternyata setelah putus
cinta, manusia bisa menghubungkan kesedihan dengan apa saja. Lagu, jalan tertentu,
jam tertentu, bahkan nanas kaleng.
Agak mengerikan memang.
2. Escapism Lewat
Repetisi
3. Menginvasi Ruang dan
Memori Orang Lain
Kalau dipikir secara
realistis, ini jelas aneh. Tapi Wong Kar-wai membuat semuanya terasa lembut dan
melankolis. Seolah-olah itu adalah bentuk lain dari rasa ingin dekat dengan
seseorang, tapi tidak tahu bagaimana cara melakukannya secara normal. Dan bukankah
kadang manusia memang seperti itu? Tidak benar-benar bisa move on, tapi juga
tidak cukup berani untuk hadir secara langsung.
4. Personifikasi Benda
Mati
5. Denial Berkedok Humor
dan Keanehan
Karena dalam kehidupan
nyata, banyak orang tidak langsung hancur setelah putus cinta. Mereka tetap
pergi kerja, tetap bercanda, tetap terlihat biasa saja.
Hanya saja diam-diam
mulai berbicara dengan sabun.
Chungking
Express jadi terasa begitu dekat bagi banyak orang karena film ini memahami bahwa
patah hati tidak selalu terlihat dramatis. Kadang manusia hanya menjadi sedikit
lebih aneh dari biasanya.








This post have 0 komentar