close

Sunday, May 31, 2026

author photo


Ada dua tipe orang ketika sedang merasa kehilangan seseorang: orang yang bisa langsung lanjut hidup seperti biasa, dan orang yang tiba-tiba merasa semua lagu galau di playlist mendadak terasa sangat personal.

Mayoritas orang akan lebih dekat ke tipe yang kedua. Mungkin itu kenapa penonton merasa sangat dekat dengan film ini. Film garapan sutradara hongkong Wong Kar-wai ini bukan film romansa biasa yang sibuk memperlihatkan orang menangis di bawah hujan sambil teriak memanggil nama mantan. Chungking Express justru terasa seperti isi kepala orang yang belum selesai dengan kehilangan, tapi juga terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Dirilis pada tahun 1994, film ini dibintangi oleh Takeshi Kaneshiro (Cop 223), Tony Leung Chiu-wai (Cop 663), Faye Wong (Faye), Brigitte Lin (Woman in Blonde Wig) dan Valerie Chow (Flight Attendant). Sampai sekarang, Chungking Express masih sering disebut sebagai salah satu karya terbaik Wong Kar-wai karena visualnya yang dreamy, warna neon yang terasa kesepian, dan cara film ini menggambarkan kota besar sebagai tempat yang ramai tapi tetap sunyi.

Namun yang paling menarik buat saya adalah cara film ini membahas patah hati. Wong Kar-wai tidak menggambarkan putus cinta sebagai tragedi besar. Sebaliknya, ia menunjukkan bagaimana manusia berubah jadi sedikit aneh setelah kehilangan seseorang.

Dan jujur saja, beberapa coping mechanism di film ini terlalu relate untuk diabaikan.

1. Mengikat Diri pada Rutinitas dan Benda


Cop 223 punya cara unik menghadapi patah hati: membeli nanas kaleng dengan tanggal kedaluwarsa 1 Mei.


Bagi orang lain, itu mungkin cuma makanan kaleng biasa. Tapi bagi dia, expiration date berubah menjadi deadline emosional. Kalau sampai tanggal itu mantannya belum kembali, maka semuanya benar-benar selesai. 
Saya suka bagaimana Wong Kar-wai memperlihatkan bahwa manusia sering mencoba menciptakan kontrol kecil ketika hidup emosionalnya sedang berantakan. Karena ternyata setelah putus cinta, manusia bisa menghubungkan kesedihan dengan apa saja. Lagu, jalan tertentu, jam tertentu, bahkan nanas kaleng.


Agak mengerikan memang.

2. Escapism Lewat Repetisi


Tidak ada yang lebih identik dengan Chungking Express selain “California Dreamin” yang diputar berulang kali oleh Faye. Dan maksud saya benar-benar berulang. Awalnya terdengar menyenangkan. Lama-lama terasa seperti alarm psikologis. Namun justru di situlah menariknya. Kadang setelah kehilangan seseorang, manusia memang sengaja mengulang sesuatu terus-menerus supaya pikirannya tidak diam. Karena kalau sudah terlalu sunyi, biasanya otak mulai memutar ulang kenangan yang tidak diundang.

Jadi ya, mungkin memutar lagu yang sama 47 kali sehari memang lebih aman.

3. Menginvasi Ruang dan Memori Orang Lain


Faye punya coping mechanism yang mungkin akan membuat banyak orang langsung mengganti password apartemen. Ia diam-diam masuk ke rumah Cop 663 saat lelaki itu sedang pergi. Membersihkan apartemennya, mengubah barang-barangnya, bahkan perlahan mengatur hidupnya tanpa izin yang jelas.

Kalau dipikir secara realistis, ini jelas aneh. Tapi Wong Kar-wai membuat semuanya terasa lembut dan melankolis. Seolah-olah itu adalah bentuk lain dari rasa ingin dekat dengan seseorang, tapi tidak tahu bagaimana cara melakukannya secara normal. Dan bukankah kadang manusia memang seperti itu? Tidak benar-benar bisa move on, tapi juga tidak cukup berani untuk hadir secara langsung.

4. Personifikasi Benda Mati


Salah satu bagian paling menyedihkan sekaligus absurd di film ini adalah ketika Cop 663 berbicara dengan sabun, lap, dan boneka di apartemennya. Ia memperlakukan benda-benda itu seolah ikut sedih karena kepergian mantannya. Saya tertawa waktu pertama kali menontonnya. Lalu beberapa menit kemudian saya sadar: oh, ini sebenarnya menyedihkan.

Karena ketika seseorang terlalu kesepian, bahkan benda mati terasa lebih mudah diajak bicara dibanding manusia lain.

5. Denial Berkedok Humor dan Keanehan



Hal yang paling saya suka dari Chungking Express adalah film ini tidak pernah terlihat terlalu sedih. Karakter-karakternya quirky, random, kadang lucu tanpa alasan jelas. Tapi justru di balik semua keanehan itu, mereka terlihat seperti orang-orang yang belum benar benar selesai dengan kehilangan. Dan menurut saya, itu jauh lebih realistis dibanding drama menangis histeris selama dua jam.

Karena dalam kehidupan nyata, banyak orang tidak langsung hancur setelah putus cinta. Mereka tetap pergi kerja, tetap bercanda, tetap terlihat biasa saja.

Hanya saja diam-diam mulai berbicara dengan sabun.

Chungking Express jadi terasa begitu dekat bagi banyak orang karena film ini memahami bahwa patah hati tidak selalu terlihat dramatis. Kadang manusia hanya menjadi sedikit lebih aneh dari biasanya.

This post have 0 komentar

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post