Perbedaan Kualitas Bahan Kulit, Jadikan Harga Sepatu Kulit Asli Jadi Mahal

Ilustrasi sepatu kulit asli


PojokReview - Ada sebuah postingan di media sosial yang sempat viral, menyebut bahwa seseorang "dibodohi" oleh brand karena membeli satu produk dengan harga yang sangat mahal. Karena menggunakan kata "dibodohi" ini, banyak yang sepakat bahwa bila ada produk dengan harga yang sangat mahal di pasaran, berarti itu bentuk "pembodohan".

Tapi, apakah iya seperti itu? Kali ini kita akan studi kasus pada produk sepatu kulit, dan berkaca pada produk lokal yang harganya di atar Rp2 jutaan per pasang, yakni brand Gino Mariani. Bila Anda mengenal brand satu ini, Anda akan menyadari bahwa Gino Mariani adalah produk lokal, berada di bawah bendera PT Semasi (Sepatu Mas Idaman) tapi sertifikasi kualitasnya adalah ISO 9001 dan ISO 14000 yang menjadikannya sekelas dengan brand kenamaan seperti Lacoste, Hush Puppies, Rockport, Kickers dan sebagainya.

Sebelumnya, PT Semasi adalah perusahaan yang bertugas untuk membuat produk-produk dengan brand kenamaan dunia di Indonesia. Seperti Rockport, Lacoste, Hush Puppies dan sebagainya. Setelah terus mempelajari bagaimana cara memproduksi sepatu berkualitas tinggi tersebut, PT Semasi kemudian berdiri sendiri dan meluncurkan brand Gino Mariani.

Faktanya, meski perusahaan di Indonesia, bos sampai pekerjanya juga orang Indonesia asli namun bahan baku kulit dari setiap sepatu yang diproduksi Gino Mariani tidak mengambil dari Indonesia. Padahal, itu bisa menjadikannya lebih murah. Seperti dikatakan oleh GM PT Semasi, Denny Budianto, kulit yang ditemukan di Indonesia masih belum mampu untuk memenuhi standar kualitas setara internasional. Hasilnya, bahan baku kulit seperti kulit sapi, rusa dan sebagainya didatangkan dari Australia dan Eropa. Jenis kulit dengan kualitas paling sempurna disebut sebagai full grain atau top grain.

Selain itu, di pabrik juga mesti ada sertifikasi semua peralatan dan bahan yang mesti setara dengan ISO 9001 dan ISO 14000. Laboratorium dan peralatan tersebut bahkan terus diaudit setiap tahun, dan akan mendapatkan sertifikasi Satra (dari UK). 

Bahan sol luar (outsole) sepatu terbuat dari bahan karet yang juga berkualitas tinggi. Untuk pengetesannya ada berbagai uji kontrol kualitas (quality control) untuk memastikan bahan yang memenuhi standar saja yang boleh digunakan. Lebih dari itu, ketika produk tersebut sudah jadi maka ada beberapa tes lagi yang harus dijalani sebelum dilemparkan ke pasar. 

Mulai dari uji kelenturan, uji abrasi, test warna (kelunturuan) dan sebagainya. Produk yang bermutu rendah, seperti ada jahitan yang melenceng meski hanya beberapa milimeter, atau ada warna yang pucat dan sebagainya, akan mendapatkan perbaikan terlebih dulu atau malah dibuang. Jadinya, hanya sepatu berkualitas tinggi saja yang ada di pasaran.

Belum lagi, setelah bahan dan alat pembuatannya. Tenaga ahli yang digunakan dan terakhir merupakan salah satu yang paling mahal, yakni ide atau konsep. Nah, ide ini juga mesti dihargai dan menambah mahal harga sepatu.

Baca Juga: Deretan Jenis Kulit Terbaik yang Menentukan Harga Sepatu

Bahan kulit

Misalnya begini, ada dua buah sepatu yang sama-sama berbahan dengan kualitas terbaik pertama, dan memenuhi standar internasional. Lalu, keduanya juga dibuat dengan proses yang benar, lalu memenuhi quality control dan sebagainya. Lalu dilepas ke pasaran, namun satu sepatu adalah sebuah ide mahakarya dari seorang desainer sepatu kenamaan. Sedangkan sepatu lainnya merupakan ide yang melanjutkan dari ide-ide sebelumnya. Maka sepatu yang pertama, harganya tentu lebih mahal, bukan?

Jadi, kenapa sepatu asli Indonesia semacam Gino Mariani jauh lebih mahal dari sepatu Indonesia lain seperti buatan Cibaduyut misalnya? Tentunya, penjelasan di atas bisa menjawab pertanyaan Anda.

Ditambah lagi, membeli sepatu seharga Rp2 juta dibandingkan sepatu seharga Rp200 ribu tentunya seperti sebuah kerugian bagi banyak orang. Apalagi, bentuknya sama saja ketika pembelian pertama. Tapi, bila margin harga sampai sejauh itu, maka bisa dikatakan sepatu yang Rp200 ribu tersebut dibuat dari bahan kulit sintetis yang akan gampang terkelupas dan pecah-pecah. Bagaimana selanjutnya?

Yah, faktanya sepatu seharga Rp200 ribu itu akan cepat rusak dalam waktu 2-3 bulan pemakaian rutin. Sedangkan sepatu kulit seharga Rp2 juta keatas akan tetap digunakan setidaknya 4-5 tahun ke depan. Jadi, mana yang lebih hemat?

No comments:

Powered by Blogger.