Logical Fallacy: Cacat Logika yang Jadikan Salah Ambil Kesimpulan Beserta Jenis-Jenisnya

Daftar Isi [Tutup]


    pojokreview.com - Dalam studi logika, menemukan satu kajian yang menyebabkan seseorang menjadi salah dalam mengambil keputusan, kesimpulan atau merespon sesuatu. Hal itu disebut logical fallacy atau cacat logika. Cacat logika merupakan bentuk kesalahan cara berpikir yang menyesatkan diri sendiri maupun orang lain.


    Sayangnya, dalam berdebat atau berdiskusi seringkali ditemukan cacat logika yang mengakibatkan salah mengambil keputusan. Perdebatan menjadi sedemikian panjang dan melelahkan, karena salah satu orang melihat dalam perpektif yang kurang tepat, bermula dari cara berpikir yang salah.


    Seperti contoh gambar di atas ini. Satu adalah angka dan dua adalah angka. Maka satu dan dua adalah angka. Sampai di situ masih tepat. Tapi, maka satu dan dua adalah sama adalah kesimpulan yang tidak tepat. Karena satu tidak sama dengan dua.


    Berikut beberapa contoh logical fallacies yang sering terjadi.


    Contoh dan Jenis Logical Fallacy


    Ad Hominem


    Ini yang paling sering terjadi, yakni menyerang individu pemilik ide. Jadi, bukan ide atau argumennya yang dilawan. 


    Misalnya: 


    Ada seorang anak pencuri dituduh mencuri meski tidak ada bukti. Landasannya karena seseorang tersebut adalah anak seorang pencuri. 


    Appeal to Belief


    Ini juga sering terjadi, yakni menyanggah sesuatu pendapat karena berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan tentunya bersifat subjektif sehingga tidak bisa diberlakukan secara universal.


    Misalnya:


    Menolak teori Evolusi Darwin karena menurut agamanya atau kepercayaannya itu adalah hal yang sangat salah.


    Argument from Adverse Consequences


    Biasanya ini menjadi kelanjutan dari tipe Appeal to belief. Jadi, apabila menurut kepercayaanya salah, maka semua orang tidak boleh melakukannya karena akan ada hukuman atau konsekuensi yang buruk terhadap hal tersebut.


    Misalnya:

    Menentang festival daging Babi lalu membubarkan acara tersebut. Karena menurut agamanya, daging babi adalah haram.


    Appeal to Pity


    Bila appeal to belief berdasarkan pada kepercayaan yang sifatnya subjektif, maka appeal to pity jauh lebih subjektif lagi. Appeal to pity berdasar pada kasihan, tidak tegaan, empati dan setipenya. 


    Misalnya:

    Pak Fulan ditangkap karena korupsi. Namun, sekelompok orang menyanggah bahwa pak Fulan adalah seorang koruptor, karena ia sangat rajin beribadah.


    Missing the Point


    Bermula dari premis yang bagus dan kuat. Namun di perjalanannya ada hal yang hilang atau mata rantai terputus, sehingga kesimpulannya menjadi berbelok.


    Misalnya:

    Seseorang percaya bahwa bumi itu bulat dengan segala teori pendukungnya. Karena bumi itu bulat, maka bentuk bulat adalah bentuk asli dari semua hal, termasuk batu-batuan, makhluk hidup dan semua yang hidup di dalam bumi.


    Begging the Question


    Sebuah asumsi yang didasarkan pada asumsi lain yang sudah diterima secara universal. Namun sebenarnya asumsi A dengan asumsi B memiliki perpektif yang tidak sama.


    Misalnya:

    Membunuh seseorang adalah sebuah kejahatan dan kesalahan. Karena itu, hukuman mati juga dianggap sebuah kejahatan dan kesalahan penegak hukum.


    Ad Populum


    Sebuah asumsi yang didasarkan pada kebalikan dari asumsi lain yang sudah populer dan diterima banyak pihak.


    Misalnya:

    Remaja yang nakal itu minum alkohol. Maka remaja yang tidak minum alkohol adalah remaja yang tidak nakal.


    Straw Man


    Ini merupakan salah satu bentuk logical fallacy yang berbahaya dan menyesatkan. Bermula dari pendapat subjektif berdasar beberapa logical fallacy di atas, lalu mulai menyusun pendapat bahwa lawannya adalah orang yang berbahaya.


    Misalnya:

    Seseorang percaya bahwa musik itu haram menurut kepercayaannya. Maka ia mengatakan bahwa musik membuat seseorang lupa beribadah, menjerumuskan pada narkotika bahkan bisa membuat seseorang menjadi bodoh.


    False Cause


    Sering pula disebut Post hoc. Ini adalah bentuk kesalahan atau cacat berpikir karena terlalu cepat mengambil kesimpulan berdasarkan peristiwa yang terjadi. 


    Misalnya:

    Di sebuah kampus, anak-anak yang mengikuti UKM kerohanian mendapatkan IP yang tinggi. Sedangkan yang mengikuti UKM seni mendapatkan IP yang rendah. Berarti, UKM kerohanian menjadikan mahasiswa menjadi lebih cerdas ketimbang UKM seni.


    Genetic Fallacy


    Ini yang paling umum, yakni argumen berdasar pada sesuatu yang sebenarnya tidak berkorelasi. Atau, menggeneralisir suatu hal untuk mengambil kesimpulan.


    Misalnya:

    Bangsa Eropa yang paling jahat dan harus dibenci oleh orang Indonesia adalah Belanda dan Inggris. Karena kedua negara itu pernah menjajah Indonesia.


    Itu tadi deretan jenis-jenis logical fallacy yang mungkin sering Anda lakukan. Hindari hal tersebut agar Anda tidak tersesat dan menyesatkan orang lain. Apalagi saat berdebat, berdiskusi bahkan sekedar ngobrol santai.


    Tentunya, Anda juga bisa menerapkan trik psikologis saat berdiskusi agar terhindari dari konflik.


    PROMO HARI INI

    Promo gitar akustik Lazada

    INFO LEBIH LANJUT


    Tinggalkan Komentar