Thursday, April 29, 2021

author photo



PojokReview - Sebuah artikel di Insideindonesia.org ditulis oleh Dr Rosalind Helwett bertajuk "The Forgotten Killings" (Pembunuhan yang dilupakan) merujuk ke sebuah sejarah kelam bangsa ini yang tak banyak diabadikan di buku sejarah. Ironisnya, artikel tersebut justru terbit berdekatan dengan perayaan hari Pahlawan tahun lalu.


Periode tahun 1945 hingga 1946, yang dalam catatan sejarah disebut "bersiap-tijd" alias Masa Bersiap ditulis oleh PersMercusuar pada tahun 2019 lalu sebagai fase kacau dalam revolusi Indonesia. Sebuah fase yang jauh lebih mengerikan dari tragedi 1998. Saat itu, massa pro-republik melakukan pembantaian, pembunuhan, penjarahan, pemerkosaan, dan tindak kriminal lainnya ke orang asing.


Tidak hanya orang asing, seperti Eropa dan peranakan (blasteran), tapi etnis Tionghoa juga mendapat perlakuan yang sama. Bahkan, etnis asli Indonesia seperti Minahasa, Ambon, Melayu, dan sebagainya yang dianggap pro-Belanda juga tak mampu menghindar dari tragedi ini. 


Seperti kisah salah satu penyair kenamaan tanah air, Amir Hamzah yang diangkat ke panggung teater sebelum pandemi lalu. Amir Hamzah adalah golongan bangsawan yang menjadi korban amukan massa pro-republik sehingga meninggal dalam kondisi menggenaskan. 


Memang benar seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Dan saat itu, Indonesia yang berhasil keluar sebagai pemenang, merdeka dari "cengkraman" penjajah, dan berdiri sendiri sebagai negara. Maka sejarah yang dituliskan oleh "pihak pemenang" tentunya bergerak dalam kerangka itu.


Apa yang terjadi di tahun 1945 - 1946? Selain aksi heroik perobekan bendera Belanda di hotel Surabaya, termasuk perang Surabaya yang mencengangkan dunia? Inggris, Amerika, dan Belanda sebagai jawara Perang Dunia ke-2 harus habis-habisan mengeluarkan senjata dan tenaga untuk meredam perlawanan di Surabaya. Belum lagi di Medan, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya yang juga menguras tenaga. Agresi Militer yang dilakukan Belanda dua kali setelah masa itu menunjukkan pada dunia, siapa tokoh antagonis dalam kisah ini.


Namun ada yang terlupakan. Bahwa orang-orang Belanda dan Inggris yang ada di Indonesia tidak hanya tentara yang membawa senjata. Ada juga orang-orang yang datang sebagai pegawai. Juga ada orang Indonesia yang dinikahi orang Eropa, atau orang Indonesia yang sejak kecil sudah diadopsi oleh orang Eropa. Juga ada orang Indonesia yang bekerja sebagai "pegawai negeri sipil" di era kolonial. Ditambah dengan kaum bangsawan yang dianggap "hidup tenang" di era kolonial, serta keturunan Tionghoa yang juga dikenal sebagai para pedagang. 


Rata-rata, mereka yang menjadi korban di fase kacau tersebut. Lebih malangnya, sebagian dari mereka adalah wanita dan anak-anak yang tidak memegang senjata apapun. Mereka (para korban) terlihat sebagai golongan borjuis, terserah apakah mereka pro-Belanda atau tidak. Lebih sialnya, sejumlah catatan sejarah menyebut ada juga anak-anak kecil yang menjadi korban keganasan massa.


Para tahanan perang juga dihabisi, begitu juga none Belanda yang punya rumah indah. Mereka dihabisi, dan harta kekayaannya diambil untuk membayar siapapun yang mengotori tangan mereka dengan darah. Salah satunya terjadi di Pacet, antara Malang dan Surabaya. Di tempat itu, sejumlah penyiksaan berakhir dengan kematian yang tragis bagi para tahanan perang, keturunan Belanda, dan orang-orang yang dianggap pro-Belanda.


Intelijen Belanda yang mengumpulkan data sejak tahun 1947 hingga 1948 menyebutkan ada ribuan nyawa yang melayang dalam kejadian itu. Sedangkan di Surabaya, tepatnya di Komplek Balai Pemuda (dulunya bernama Simpang Club), ratusan orang Eropa, keturunan, atau orang Indonesia yang dianggap pro-Belanda meninggal dalam kondisi menggenaskan.


Namun, seperti yang ditulis oleh Rosalind Hewett, bahwa rentetan pembunuhan di era "Masa Bersiap" sangat sulit ditemukan literaturnya, apalagi di Indonesia. Maka, kisah kelam tersebut perlahan tertutup dan terlupakan. Meski satu persatu terungkap, namun tak juga mampu mengungkap kejadian seutuhnya. 


Ada dua hal penyebabnya. Pertama, di Indonesia, catatan sejarah tentang kejadian tersebut seperti sengaja dihilangkan dengan berbagai alasan. Kedua, cukup tabu membicarakan hal ini, karena "otak" dari kejadian-kejadian ini di setiap daerah rata-rata dikenal sebagai "Pahlawan Nasional".


Meski demikian, tentunya fakta sejarah harus tetap diketahui tanpa dikaburkan apalagi dilupakan. Romantisme perjuangan bangsa ini juga akan tetap agung, meski kita mengetahui ada harga yang mahal di baliknya.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post