![]() |
| Ilustrasi Musa membelah laut Merah |
Pojok Review - Musa, salah satu pemimpin Yahudi (yang disebut navi, dalam tradisi Islam menjadi nabi) juga dikenal sebagai nabi pembelah laut dengan tongkat ajaibnya, tercatat kemungkinan hidup di sekitaran tahun 1500-an SM.
Mari kita simak cerita tersebut berdasar Kitab Keluaran (The Book of Exodus). Semua bermula ketika Firaun Amunhotep I yang tidak ingin orang Ibrani menjadi semakin banyak. Karena itu, Firaun Amunhotep I memerintahkan membunuh siapapun anak-anak Ibrani yang terlahir sebagai lelaki. Dalam tradisi Yahudi, ceritanya diubah bahwa Amunhotep I bermimpi akan terbunuh oleh seorang anak Ibrani.
Firaun Amenhotep I punya seorang anak, anaknya bernama Hatshepsut. Hatshepsut ini yang kemudian tercatat mengadopsi seorang anak yang diambil dari sungai. Anak itu diberi nama "mosheh" yang berarti menarik/mengangkat. Dalam Kitab Keluaran 2:9-10 disebutkan Vatiq'ra Syemo Mosyeh Vatomer Ki Min-Hamayim Mesyitihu (And she called his name Moses: and she said, Because I drew him out of the water.)
Kejadian Firaun Amenhotep I mulai membunuhi anak-anak ini dilakukan pada periode tahun 1532 - 1511 SM menurut Kitab Keluaran (Book of Exodus). Kelahiran Moses (Musa) berdasarkan Kitab Keluaran, adalah pada tahun 1526 SM.
Sayangnya kisah ini hanya tercatat di The Book of Exodus, bagian kedua dari Torah (Taurat). Kisah ini tidak tercatat selain di Kitab Keluaran dan kitab-kitab suci agama Abrahamik. Dan sialnya, banyak hal yang didapatkan di era modern ini memberikan kemungkinan yang sangat mengejutkan. Yah, Musa juga adalah Firaun!
Apakah Firaun Pada Zaman Nabi Musa adalah Amenhotep I?
![]() |
| Proses pemindaian sinar CT pada Mumi Firaun Amenhotep I |
Pemindaian sinar CT pada mumi Firaun Amenhotep I membuktikan bahwa kondisi giginya benar-benar baik saat meningga dunia. Maka, kemungkinan usia meninggalnya paling tua berumur 35 tahun, berdasarkan hasil pemindaian CT pada tanggal 20 mei 2019 lalu. Anda bisa membaca dalam Digital Unwrapping of the Mummy of King Amenhotep I (1525–1504 BC) Using CT yang ditulis oleh Sahaer N Saleem dan Zahi Hawass.
Dalam artikel tersebut, Sahaer N Saleem dan Zahi Hawass menulis sebagai berikut:
The age at death of Amenhotep I is estimated at 35 years based on the closure of epiphyses of all the long bones, as well as on the morphology of the surface of the symphysis pubis (stage 4 corresponding to 35.2 ± 9.4 years (Figure 8) (13). The mouth contains a complete set of teeth including all of the third molars (Figure 9). Mild attrition of the maxillary and mandibular teeth (13–15).
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Firaun Amenhotep I tidak punya anak, karena satu-satunya anaknya adalah seorang putra yang meninggal saat masih kecil, seperti yang ditulis oleh Aidan Dodson dan Dyan Hilton dalam The Complete Royal Families of Ancient Egypt (2010 paperback ed.). Karena itu, Amenhotep I digantikan oleh Thutmose I yang jelas bukan anak bahkan tidak jelas hubungan keluarga dengan Amenhotep I.
Nicolas Grimal menulis dalam A History of Ancient Egypt di tahun 1992, bahwa nama Thutmose I ditulis di sebelah Amenhotep I pada perahu suci yang ditemukan pada timbunan pylon ketiga di Karnak, oleh para arkeolog. Bukti ini menunjukkan bahwa kemungkinan Thutmose I adalah orang yang dipercayai Amenhotep I, tangan kanan, juga panglima militer. Ada teks lain yang mengarahkan bahwa Amenhotep I menunjuk Thutmose untuk menjadi penguasa bersama, meski buktinya masih terlalu sedikit.
Sebelum beralih ke Firaun Thutmose I, mari kita balik ke belakang, ke Firaun Ahmose I yang merupakan bapak kandung dari Firaun Amenhotep I. Ahmose I naik tahta ketika masih "kanak-kanak" yakni 10 tahun, sehingga ibunya Ahhotep yang menjalankan roda pemerintahan di di kota Thebes (kota kuno, berada di sekitar kota Luxor, dan Karnak. Nama Thebes tercatat dalam bahasa Yunani, sedangkan dalam bahasa Mesir Kuno kota ini disebut kota Wꜣs)
Kenapa harus balik sebentar ke Ahmose I? Yah, ini untuk membuktikan bahwa Amenhotep I dan Thutmose I sepertinya punya perbedaan yang sangat kentara. Amenhotep I dan ayahnya, Ahmose I memimpin Mesir kuno dari Thebes. Sedangkan era Thutmose I, ibukota kerajaan Mesir kuno pindah ke Memphis (lokasi kota kuno ini cukup dekat dengan kota Kairo di era modern). Memphis memang ibukota awal Mesir karena letaknya yang strategis, dekat dengan delta nil. Memphis berada di wilayah utara Mesir era dinasti awal pemimpin Mesir kuno.
Ketika kerajaan lama melemah, bangsawan di setiap daerah mulai menguat, maka dinasti dari Selatan menguasai kerajaan baru menjadikan Karnak dan Luxor sebagai pusat keagamaan, Thebes sebagai pusat politik dan relijius. Perpindahan dari Thebes ke Memphis karena nyaris semua tempat di Mesir kuno bergejolak pasca pindahnya "garis" dinasti Firaun dari Amenhotep I ke Thutmose I. Thebes tetap jadi pusat relijius, namun pusat pemerintahan dan militer Mesir kuno kembali dipusatkan di Memphis.
Nah, Firaun Thutmose I ini punya anak 5 orang. Anak pertamanya yang kemudian menjadi Thutmose I dan anak keduanya seorang perempuan yang bernama Hatshepsut. Hatshepsut ini hidup sekitar tahun 1505 hingga meninggal 1458 SM. Hatshepsut inilah yang dianggap sebagai putri Firaun yang menyelamatkan Moses/Musa dari Sungai Nil.
Saat Thutmose II (yang juga kakak sekaligus suami dari Hatshepshut) naik tahta, Hatshepsut hanya memiliki seorang anak dari Thutmose II, yang juga seorang perempuan bernama Neferure (dalam The Complete Royal Families of Ancient Egypt yang ditulis oleh Dodson & Hilton, 2004). Justru Thutmose II mendapatkan anak lelaki lewat istri keduanya bernama Mutnofret (kemungkinan adalah putri Ahmose I). Sayangnya Thutmose II hanya menjadi raja dalam waktu yang cukup pendek. Hanya ada sedikit monumen yang merujuk ke Thutmose II, dan ketika tahun 2022 arkeolog menemukan makamnya di bawah Air Terjun yang rusak karena banjir berkala. Hasil penelitian terhadap tubuhnya, diketahui ia meninggal sebelum berusia 30 tahun.
Thutmose III saat itu masih berusia kanak-kanak. Karena itu, Thutmose III tetap memimpin, namun wali raja adalah Hatshepshut. Menariknya, Hatshepshut memproklamirkan dirinya sebagai Firaun ke-6 dari Dinasti ke-18 Mesir. Namun, Thutmose III tetap adalah Firaun, dan menjadi pemimpin bersama. Firaun Hatshepshut turun tahta ketika Thutmose III sudah berusia 22 tahun dan cukup umur untuk menjadi Firaun Mesir.
Tidak ada catatan Hatshepshut mengadopsi anak, apalagi anak yang diambil sungai. Tapi, ada nama Merytire-Hatshepsut yang merupakan istri dari Thutmose III. Nah, Merytire-Hatshepsut ini melahirkan anak bernama Amenhotep II, yang kemudian naik tahta menjadi Firaun pada tahun 1427 hingga 1401 SM. Dari Amenhotep II, turun ke Amenhotep III, sampai akhirnya ke Firaun Amenhotep IV yang berkuasa di tahun 1351 - 1334 SM.
Jarak yang cukup jauh dari Firaun Amenhotep IV bila ditarik ke Hapshetshut. Hapshetshut meninggal tahun 1458 SM, sedangkan Amenhotep IV lahir di tahun 1362 SM. Berarti, Amenhotep bukan orang yang ditarik oleh Hapshetshut dari sungai, bukan? Berarti, Amenhotep IV bukanlah Musa/Moses.
Sigmund Freud Meyakini Amenhotep IV adalah Musa?
![]() |
| Firain Amenhotep IV atau Akhenaten |
Sigmund Freud menulis buku berjudul Moses and Monotheism (1939). Dalam buku tersebut, Freud menyebutkan dugaannya bahwa Firaun Amenhotep IV adalah Musa. Namun, dugaan tersebut ditolak oleh para ahli sejarah Mesir kuno (Egyptologist). Freud menyebutkan Amenhotep IV adalah orang pertama yang mencetuskan monoteisme di Mesir kuno. Dia menghapus banyak dewa-dewa yang disembah masyarakat Mesir kuno, dan menjadikan hanya satu yang disebut "Aten". Aten ini di gambarkan sebagai cahaya dari langit atau Dewa Matahari (Solar deity; embodiment of the sun’s disk). Semua jenis dewa yang lain ditolak dan dihilangkan, pemujaan hanya pada satu "Tuhan" yakni Aten.
Saat itu, Amenhotep IV mendirikan kota baru yang diberi nama kota Akhetaten (horizon of the Aten). Sekaligus, ia mengubah namanya sendiri menjadi Akhenaten (Perantara bagi Aten). Tindakan Akhenaten yang mengubah "agama" Mesir kuno tersebut tentunya mendapatkan perlawanan, sampai akhirnya terjadi krisis internal kerajaan, kehilangan pengaruh di Suriah-Levant, dan sebagainya. Sejumlah teks mencatat ada kudeta yang ingin menggulingkan Firaun Akhenaten demi mengembalikan agama mereka.
Hasilnya, Akhenaten dinyatakan meninggal antara tahun 1336-1334 SM. Tidak ada catatan kenapa ia meninggal di catatan resmi kerajaan. Bahkan, namanya sempat dihapus dari daftar Firaun. Pengikut setia Akhenaten juga tidak tercatat berada di mana setelah itu. Kota Akhetaten yang dibangun Akhenaten juga ditinggalkan dan dihancurkan. Kerajaan kembali ke Memphis, dan pusat relijius kembali ke Thebes. "Tuhan" lama mereka, Amun, kembali dipuja, begitu juga dewa-dewa lain pendamping dewa Amun yang juga biasa disembah masyarakat Mesir kuno.
Elit relijius di Thebes kembali punya pengaruh, dan Firaun berikutnya yang merupakan anak kandung Akhenaten, justru menggunakan nama "Amun" di namanya, yakni Tutakhamun. Ia terlahir dengan nama Tutankhaten yang berarti "Jelmaan hidup Aten", namun ketika ia naik tahta, ia mengganti namanya menjadi Tutankhamun yang berarti "Jelmaan hidup Amun".
Amenhotep IV atau Akhenaten adalah orang pertama yang tercatat mengajukan ide monoteisme. Hal itu dia lakukan dengan cara yang radikal, termasuk menghapus nama ayah dan leluhurnya dari sejarah. Hasilnya, ia juga dihapus dari sejarah ketika meninggal. Sampai ribuan tahun kemudian, akhir hidup Akhenaten masih menjadi misteri. Kemana para pengikut monoteisnya pergi?
Karena inilah, teori bahwa Musa adalah Firaun Amenhotep IV atau Akhenaten menguat. Bukankah istilah "Akhenaten" alias "perantara Aten (pada umatnya)" itu mirip dengan definisi dari navi (nabi), yang menjadi perantara dan penyampai pesan?
Firaun yang Mengejar Musa adalah Thutmoses III?
![]() |
| Firaun Thutmoses III |
Bila menurut Kitab Keluaran, Thutmoses III adalah orang yang ingin membunuh Musa, maka perlu dicatat bahwa Thutmoses III menjadi raja sejak 1504, dan mangkat pada tahun 1450 SM. Berarti, ketika Hapsetshut menjadi wali, Thutmoses III masih berusia sangat kecil. Sedangkan, Musa sudah diadopsi oleh Hapsetshut sejak ia masih gadis. Musa dikejar oleh Firaun sampai menyeberangi laut merah, tapi hingga 1486 (tahun ketika tercatat Musa berusia 40 tahun), Thutmoses III masih belum naik tahta. Ia naik tahta 3 tahun kemudian, yakni tahun 1483.
Bayangkan seperti ini, seandainya benar Musa adalah anak angkat Hapsetshut, dan Hapsetshut tidak punya anak laki-laki, hanya satu orang anak perempuan yakni Neferuri. Thutmoses III naik tahta tahun 1483 ketika ia berusia 22 tahun, dan Musa berusia 40-an tahun. Maka, apa yang akan dilakukan Thutmoses III?
Jelas, dia akan mengejar Musa. Musa adalah anak angkat Firaun Hapsetshut, yang bisa saja menjadi firaun berikutnya, kalau saja Musa menikahi anak Hapsetshut, yakni Neferuri. Sayangnya, seperti diceritakan dalam berbagai kitab suci, Musa tidak menikahi keluarga kerajaan bukan?
Baca juga: Bagaimana Mesir Kuno Terpikir untuk Membuat Mumi?
![]() |
| Prediksi wajah Firaun Hapsetshut, putri Firaun Thutmose I yang diduga mengadopsi Musa |
Setelah Thutmoses III naik tahta, semua monumen atas nama Hapsetshut dihapuskan, semua catatan atas nama Hatshepshut juga dihapuskan. Musa kembali ke mesir di duga tahun 1452 hingga 1425. Siapa di tahun itu yang menjadi Firaun? Yah, Amenhotep II. Amenhotep II tidak tercatat ada perang atau mengejar pasukan tertentu.
Kalau mengikuti ini, maka kronologinya adalah:
- Thutmose I adalah Firaun ketika Musa lahir
- Hatshepsut adalah putri Firaun yang mengadopsi Musa
- Thutmose III adalah Firaun yang berkonflik dengan Musa.
Kenapa bukan Thutmose II? Karena Thutmose II hanya memimpin kerajaan dalam waktu yang relatif singkat, sampai akhirnya Hatshepshut naik tahta. Buktinya ada pada penelitian dan forensik pada mumi Thutmose II yang ditemukan di Deir el-Bahari. Thutmose II berdasar hasil pemeriksaan fisik didiagnosis memiliki penyakit kronis, dan gangguan kulit, serta tubuh yang kurus dan lemah. Kemungkinan Thutmose II memerintah selama 3 tahun paling cepat, 8 tahun paling lama.
Tafsir dari Book of Exodus menyebutkan bahwa eksodus Musa dan pengikutnya dilakukan 480 tahun sebelum pembangunan Bait Suci Sulaiman. Sedangkan Bait Suci tersebut dibangun pada tahun 966 SM. Berarti, Musa dan pengikutnya melakukan eksodus pada tahun 1446 SM. Dan di zaman itu, siapa firaunnya? Yah, lagi-lagi, Amenhotep II.
Kerajaan Mesir relatif stabil pada era Amenhotep II, bahkan ia juga melakukan kampanye militer ke Suriah-Levant. Dan, tentunya catatan menunjukkan Amenhotep II meninggal karena sebab yang alami. Mumi Amenhotep yang ditemukan di makam kerajaan (Valley of the Kings) pada tahun 1898 oleh Victor Loret, kemudian diperiksa secara teliti. Hasilnya, tidak ditemukan Amenhotep II meninggal karena kekerasan, apalagi karena tenggelam di laut merah. Buktinya, ia dimakamkan secara normal di makam kerajaan.
Apakah Firaun pada Zaman Nabi Musa adalah Ramses II?
![]() |
| Ramesses II (Ramses II) yang juga diduga adalah Firaun yang berkonflik dengan Musa |
Salah satu teori yang populer adalah Firaun yang berkonflik dengan Musa adalah Ramesses II. Ia adalah raja besar dari dinasti ke-19 Mesir. Ramesses II memerintah pada tahun 1279 hingga 1213 SM. Beberapa petunjuk sejarah disebut selaras dengan kisah yang ada di kitab suci. Misalnya:
1. Kota Raamses dalam kisah Eksodus
Dalam Kitab Eksodus disebutkan bahwa bangsa Israel pernah dipaksa bekerja untuk membangun kota Raamses. Banyak ahli mengaitkan kota ini dengan Pi-Ramesses, ibu kota besar yang dibangun oleh Ramses II di Delta Nil. Kemiripan nama ini sering dianggap sebagai petunjuk kuat bahwa peristiwa Eksodus terjadi pada masa pemerintahannya.
2. Masa pembangunan besar-besaran
Ramses II dikenal sebagai salah satu Firaun paling ambisius dalam proyek pembangunan. Ia mendirikan banyak kuil, kota, dan monumen raksasa. Dalam konteks ini, masuk akal jika ada tenaga kerja besar yang digunakan untuk proyek-proyek tersebut, termasuk kemungkinan tenaga kerja dari kelompok asing yang tinggal di Mesir.
3. Dinasti ke-19 berkuasa di wilayah Delta Nil
Sebagian peneliti juga berpendapat bahwa lokasi kerajaan Ramses II di wilayah Delta Nil cukup dekat dengan rute yang mungkin dilalui oleh kelompok yang meninggalkan Mesir menuju Sinai dan Kanaan.
Tiga catatan sejarah tersebut dianggap penguat bahwa Firaun yang berkonflik dengan Musa adalah Ramesses II. Hanya saja teori ini mental karena beberapa alasan. Antara lain:
1. Kronologi yang Tidak Tepat
Beberapa ahli berpendapat bahwa kronologi Alkitab jika dihitung secara literal justru menunjuk pada periode yang lebih awal, yaitu sekitar abad ke-15 SM. Jika perhitungan ini digunakan, maka Firaun pada masa Musa kemungkinan berasal dari dinasti yang lebih tua, bukan Ramses II.
2. Tidak Ada Catatan Peristiwa Exodus dalam Era Ramses II
Mesir Kuno memiliki tradisi pencatatan yang sangat kuat, terutama tentang kemenangan dan prestasi raja. Namun hingga kini tidak ditemukan catatan Mesir yang secara jelas menyebutkan peristiwa seperti Eksodus atau bencana besar yang menimpa pasukan Firaun di laut. Hal ini membuat sebagian sejarawan meragukan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada masa Ramses II.
3. Mumi Ramses II ditemukan utuh
Salah satu argumen populer di masyarakat adalah bahwa Firaun yang tenggelam di laut seharusnya tidak meninggalkan jasad yang diawetkan. Sementara itu, mumi Ramses II ditemukan dan kini disimpan di Museum Mesir di Kairo. Bagi sebagian orang, fakta ini dianggap sebagai indikasi bahwa ia mungkin bukan Firaun yang tenggelam dalam kisah tersebut.
Namun para sejarawan juga mengingatkan bahwa kisah tenggelamnya Firaun dalam tradisi keagamaan tidak selalu harus dipahami secara literal dalam konteks sejarah Mesir.
4. Putri Ramses II Tidak Mengadopsi Anak
Selain itu, Ramses II punya dua orang putri yang terkenal. Dua orang putrinya adalah Bintanath dan Meritamen. Catatan tentang kedua putrinya ini cukup lengkap, mengingat keduanya juga memegang posisi penting di istana. Tapi, di antara catatannya yang sangat lengkap itu, tidak ada catatan bahwa keduanya pernah mengadopsi anak.
Padahal, jelas bahwa Musa diselamatkan dari air oleh salah satu putri Firaun. Ketiadaan catatan tentang anak yang diadopsi ini menjadikan teori tentang Ramses II adalah Firaun yang berkonflik dengan Musa menjadi sangat lemah.
Sekarang, bagaimana menurut pendapat Anda?


.png)





This post have 0 komentar