Tuesday, February 09, 2021

author photo
Herman William Daendels
Herman William Daendels

PojokReview - Korupsi sudah mendarah daging di Indonesia. Faktanya, sampai tahun 2021, kasus korupsi masih marak, dan menyelewengkan dana program-program sosial semacam hibah, bansos, bantuan untuk rakyat miskin sampai bantuan Covid-19. Kenapa dibilang mendarah daging? Yah, karena dari berbagai catatan sejarah, korupsi sudah dilakukan orang Indonesia sejak berabad-abad silam.


Salah satu kisah paling ternama adalah ketika gubernur jenderal Hindia Belanda HW Daendels yang datang memerintah selama tiga tahun mulai dari 1808. Ia membangun jalan Raya Pos dari Anyer di barat Jawa sampai Panarukan di timur Jawa. Melintasi 1 pulau dengan panjang jalan tak tanggung-tanggung, yakni 1000 km!


Sampai bertahun-tahun ke depan, jalan Anyer - Panarukan justru terus berjasa. Namun, Daendles tidak dikenang atas jasanya. Karena bangunan itu dibangun atas nama kerjapaksa dan ribuan orang meninggal ketika melakukan pekerjaan tersebut. Daendels dianggap gubernur jenderal terkejam yang pernah ada.


Daendels diperintahkan untuk menyelamatkan Jawa dari Inggris yang sudah mengepung laut Jawa. Salah satu penyebabnya adalah kekalahan negara-negara Eropa, termasuk Belanda, dalam Java Campaign 1806, atau 2 tahun sebelum Daendles mendarat ke Tanah Jawa.


Java Campaign adalah perang besar dan mengerikan di laut Jawa yang mempertemukan kekuatan besar Eropa yakni Belanda yang didukung Perancis melawan Inggris. Untuk lebih lengkapnya tentang Java Campaign 1806 silahkan baca di artikel ini: Java Campaign 1806: Perang Besar Bangsa Eropa di Laut Jawa.


Maka Daendels diminta untuk melakukan dua hal, yakni memperkuat pertahanan Jawa sekaligus meningkatkan penghasilan pemerintahan Hindia Belanda. Maka, membangun jalan adalah pilihan yang paling tepat untuk itu. Pembangunan jalan itulah yang dianggap aksi terkejam Daendels di Nusantara.


Namun catatan dari sastrawan besar Indonesia, pernyataan sejarawan dari Universitas Indonesia, Djoko Marihandono dalam disertasinya yang membahas sentralisasi kekuasaan Daendels selama memimpin Hindia Belanda, justru menunjukkan hal yang menarik. Salah satunya adalah ternyata bukan hanya kekejaman Daendels yang membuat ribuan nyawa melayang di Anyer - Panarukan. Tapi, bupati yang korup juga ikut menyumbang penyebab kematian.


Salah satu yang diteliti adalah pembangunan jalan Bogor - Cirebon yang dilakukan April 1808 dengan total jarak 150 km. Sebanyak 1.100 pekerja diturunkan untuk proyek tersebut. Namun, seperti yang dimuat Historia.id, ternyata pekerjaan tersebut bukanlah kerja paksa.


Djoko Marihandono menemukan dokumen pembayaran dari Pemerintah Hindia Belanda ke Prefek (setara Gubernur sekarang) dan kemudian diturunkan ke bupati yang akhirnya diberikan pada para pekerja. Dananya cukup besar yakni sekitar 30 ribu ringgit. Setiap pekerja akan mendapatkan gaji mulai dari 1 ringgit sampai 10 ringgit, tergantung dari jarak dan sulitnya medan yang ditemui.


Para pekerja juga mendapat tambahan gaji berupa beras dan garam untuk konsumsi saat itu. Upah tersebut disesuaikan dengan peraturan pengupahan di era itu. Mulai dari membeli peralatan, pekerja, mandor sampai makan sudah ditanggung.


Dokumen pembayaran dari Pemerintah ke Prefek juga sudah ditemukan. Begitu juga dokumen dari Prefek ke Bupati. Sayangnya, dokumen dari bupati ke para pekerja justru tidak ditemukan. Sedangkan beberapa sumber terdahulu menyebutkan bahwa para pekerja tidak dibayar alias kerja paksa!


Kehabisan Dana di Jawa Tengah


Sampai ke Jawa Tengah, Daendels menyadari bahwa dana sudah mulai menipis. Maka Daendels mulai meminta para penguasa yakni para bupati berkumpul di Semarang. Saat itu, Daendels meminta para bupati memberlakukan kerja sebagai pengganti upeti.


Sejak zaman dulu, warga yang dianggap menempati atau menumpang di tanah milik kerajaan, harus membayar pajak atau upeti ke raja. Selanjutnya, selama proses pembangunan jalan mulai dari Jawa Tengah sampai ke Jawa Timur dilakukan tanpa bayaran. Para bupati yang mengerahkan penduduk untuk bekerja sebagai pengganti upeti.


Hal itulah yang dimaknai catatan sejarah sebagai "kerja paksa". Namun, dari sekelumit kisah di atas justru yang kita temukan adalah; penjajah berkulit putih memang jahat. Tapi, yang lebih jahat justru adalah penjajah berkulit cokelat!


Baca juga review kisah sejarah menarik lainnya dari PojokReview dalam label "SEJARAH".

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post